Berita Utama
Minggu, 15 Maret 2009, 20:15:58 WIB
Presiden SBY: Koalisi Itu Perlu
Seorang wartawan mengajukan pertanyaan kepada Presiden SBY dalam acara silaturahmi dan bincang-bincang dengan wartawan, di Puri Cikeas, Cikeas, Bogor, Jabar, Minggu (15/3) sore. (foto: abror/presidensby.info)
"Sudah dua kali pemilu, saya kira pemilu 1999 dan 2004, ternyata tidak ada satu partai politik yang sangat dominan dan kuat. Oleh karena itu koalisi diperlukan. Dengan koalisi, maka pemerintahan akan lebih stabil. Hubungan antara eksekutif dengan legislatif, pemerintah dengan parlemen, juga akan lebih baik," lanjut SBY.
Namun Presiden SBY memberi catatan, koalisi yang akan datang harus lebih berdasarkan aturan main, etika yang lebih konkret agar koalisinya lebih efektif dan dipandang oleh publik lebih tepat dan masuk akal. "Karena tentu yang namanya koalisi itu ya bersama-sama. Ketika harus mempertahankan posisi politik, tentu tidak elok bila berhadap-hadapan secara sengit. Jadi banyak yang harus kita tata kembali menyangkut format serta aturan dalam koalisi nanti," SBY menegaskan.
"Memang ada anggapan, Partai Demokrat dianggap jaga jarak, tidak mau komunikasi. Padahal Ketua Umum Partai Demokrat, Pak Hadi Utomo, dengan Sekjen dan beberapa fungsionaris juga menjalin komunikasi-komunikasi. Tidak harus saya dan saya bukan Ketua Umum. Jadi keliru karena SBY tidak jalan kemana-mana seolah-olah Partai Demokrat tidak mau berkomunikasi. Partai Demokrat juga berkomunikasi," jawab SBY.
Ketika ditanya Partai Demokrat mesti berkoalisi dengan siapa? Presiden SBY belum bisa mengatakan sekarang dengan siapa. "Jangan sampai nanti bertepuk sebelah tangan," ujar SBY. "Tetapi Partai Demokrat bersedia membuka pintu, ingin pula menjalankan tugas-tugas pemerintahan bersama-sama jika Partai Demokrat juga lolos dalam pemilu 2009 ini, mendapatkan mandat yang cukup dan ikut mengatur jalannya pemerintahan. Termasuk bila saya punya peluang untuk itu," SBY menjelaskan.
Partai Demokrat tidak ingin terlalu cepat, seolah-olah pasti berhasil. "Tapi kami berjuang, all out, ingin sukses di pemilu 2009 ini. Dan setelah itu kami akan melakukan komunikasi politik yang intens untuk siap berkoalisi dengan siapapun. Terbuka. Orang mengatakan, ah tidak mungkin PDIP dengan Partai Demokrat. Dari satu sisi barangkali memang tidak mungkin. Tapi sekali lagi, politik itu bukan matematis. Dengan Partai Golkar, saya merasa memiliki hubungan dekat dengan keluarga besar Partai Golkar. Kita tidak tahu jalannya sejarahnya nanti," ujar SBY.
"Oleh karena semuanya masih cair, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Terlalu cepat dan saya tidak berani mengatakan bahwa yang paling baik bagi Partai Demokrat berkoalisi dengan partai A, B atau C. Kami terbuka dengan partai manapun karena saya tahu partai-partai politik manapun juga ingin berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negaranya," lanjutnya.
Mengenai waktunya, Presiden SBY ingin konsisten. "Waktu Rapimnas Partai Demokrat beberapa waktu yang lalu saya katakan, koalisi kita mulai setelah Pemilu Legislatif selesai. Tanggal 9 April pemungutan suara, mungkin tanggal 10 muncul hasil quick count. Seminggu setelah itu kira-kira perolehan suara masing-masing partai politik sudah kelihatan. Nah di situ supaya Partai Demokrat tidak merasa terlalu cepat mengatakan kami layak untuk mengajak koalisi-koalisi, di situlah akhir April atau medio April kami akan melaksanakan komunikasi politik lebih intens," papar SBY. (osa)



