Berita Utama
Jumat, 3 April 2009, 10:03:27 WIB
Penjelasan Presiden Usai Mengikuti KTT G-20 di London
"Wajar Kalau Masyarakat Global Cemas Sebelum KTT Dilaksanakan"
Presiden SBY memberi penjelasan kepada wartawan dalam penerbangan kembali ke tanah air dari mengikuti KTT G-20 London, hari Jumat (3/4) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
"Kekhawatiran tersebut memang wajar dan biasa terjadi sebelum pertemuan dilaksanakan. Ada negara-negara yang memberikan call yang tinggi, kemudian ternyata ada komponen domestic polemics. Ini tidak aneh, di manapun ada muatan politik dalam negeri yang tentunya menjadi bagian dari semuanya ini. Memang kalau terlalu dominan, maka sering mengganggu untuk sebuah consensus making dalam pertemuan multilateral itu. Dari situasi-situasi seperti itu, saya akhirnya bisa belajar mengambil kesimpulan bahwa statement yang terlihat tidak akan menemukan titik temu memang merupakan strategi call yang tinggi. Atau ada kepentingan politik dalam negeri dari negara masing-masing," SBY menambahkan.
"Tetapi setelah seluruh pemimpin negara yang tergabung di dalam KTT G-20 bertemu dalam rangkaian pertemuan puncak itu, saya justru melihat bahwa seluruh pemimpin yang hadir memiliki tanggung jawab yang tinggi. Kita dapat mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan masing-masing, dan alhamdulillah, terjadi consensus making yang akhirnya menuju kepada perumusan komunike yang menurut saya banyak sekali terjadi kompromi dan konsensus yang positif. Ini pengalaman berharga. Tidak perlu cemas, kalau sebelumnya seolah-olah amat sulit membangun suatu kesepakatan, tapi kalau kita teguh, tidak pernah menyerah mencapai solusi, maka jalan itu senantiasa terbuka," kata SBY.
Selain itu, Presiden SBY juga menemukan adanya benturan atau clash of interest. "Di satu sisi kita semua secara global sadar, there must be a global solution untuk mengatasi krisis perekonomian dunia. Tanpa global solution maka yang dilaksanakan oleh masing-masing negara tidak akan efektif. Oleh karena itu, kita berhadapan dengan satu tantangan lagi untuk mengharmoniskan antara national interest dengan global interest," tambahnya.
Presiden SBY melihat bahwa tidak perlu ada konflik yang tajam antara national interest dan global interest. "Kita bisa memperjuangkan kepentingan nasional kita dari amanah yang kita emban. Dalam melaksanakan pertemuan bilateral, selalu ada di kepala saya, apa yang dapat kita capai untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat indonesia, thats our national interest," jelasnya
"Global interest juga, apabila dicapai, alirannya juga akan datang kepada negara kita. Dan tidak mungkin kita membiarkan begitu saja satu tatanan global, solusi global dibangun tanpa kita berpartisipasi dan kontribusi. Ini yang perlu diketahui oleh kita semua sehinga tidak mungkin kalau kita harus mengalahkan interes negara lain untuk kepentingan kita sendiri tidak akan mungkin terjadi. Mereka juga punya pemikiran yang sama, sehingga sharing ini sangat penting dan dalam praktek bisa dilakukan dengan baik," kata SBY
Selain itu, menurut SBY, para pemimpin yang tergabung di dalam G-20 dan pemimpin lembaga-lembaga internasional lainnya seperti PBB, IMF dan Bank Dunia, bisa lebih cepat sampai kepada kesepakatan dan hal-hal prinsip. "Tapi apa yang telah disepakati pada tingkat leaders, masih harus kita alirkan pada satu implementasi, practical solution yang akan digarap oleh para menteri, gubernur bank sentral sehingga sering kali apa yang sudah disepakati masih berlanjut dan kadang-kadang negosiasinya bisa alot," SBY menjelaskan.
Dalam konferensi pers tersebut juga, Presiden SBY menanggapi kegiatan unjuk rasa yang dilaksanakan di London. "Apa yang diperjuangkan oleh pengunjuk rasa, itulah yang diperjuangkan oleh Indonesia sebagai negara berkembang. Justice, jangan tinggalkan orang miskin, jangan hanya menuju kapitalisme, yang kadang-kadang tidak memperhatikan kalangan-kalangan di dunia ketiga yang tidak mampu dan sebagainya. Bagi saya apa yang disuarakan oleh para demonstran tersebut
merupakan isu yang diangkat di dalam KTT G-20," jelas Presiden SBY. (har/mit)



