Berita Utama
Rabu, 8 April 2009, 21:00:26 WIB
Zikir Dan Doa untuk Suksesnya Pemilu 2009
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak masyarakat berdoa bersama agar pelaksanaan Pemilu 2009 di tanah air dapat berjalan lancar, aman dan tertib, serta membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia serta mengukir sejarah bagi perjalanan demokrasi bangsa Indonesia. Ajakan ini disampaikan Presiden saat memberikan sambutan selaku tuan rumah pelaksana zikir dan doa untuk suksesnya Pemilu 2009, di Puri Cikeas , Bogor , Rabu (8/4) malam.Selain itu, Presiden juga mengajak untuk berdoa agar pelaksanaan pemilu berjalan jujur dan adil tanpa ada kecurangan . "Semoga isu kecurangan yang diangkat pada minggu terkahir sebagai upaya kewaspadaan dengan niat yang baik mari kita jalankan. Kita selenggarakan pemilu ini jangan sampai ada kecurangan. Saya mendukung 100 persen. Itulah hati dan pikiran kita bersama, dan tentunya baik bagi kita semua untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik tanpa kecurangan sedikitpun," ujar SBY.
"Namun kalau isu kecurangan ini diangkat dengan tujuan tidak sehat disertai dengan provokasi dan agitasi, menjadi tidak baik. Apalagi kalau belum-belum, pasti curang, yang curang pemerintah, dan seterusnya, saya menilai sebagai hal yang tidak betul.
Kalau kita jernih, curangnya kira-kira dimana? Jalan menuju kecurangan itu seperti apa? Pemerintah kan bisa saja curang, tapi pemerintah ini siapa ? Mungkin dulu sekali, ketika pemerintahaan itu berasal dari satu parpol. Misalnya, presidennya, wapresnya, menterinya, gubernurnya, walikotanya, bupatinya itu dari satu parpol, bisa saja orang berpikir jangan-jangan ada rekayasa, jangan-jangan ada penyiasatan untuk memenangkan parpol yang diawaki oleh pemerintah," lanjut SBY.
"Tapi sekarang Presiden dan Wapres berasal dari partai yang berbeda. Bagi saya tidak ada niat, tidak ada pikiran dan tidak ada hati untuk curang. Pertanggungjawaban di akhirat nantinya luar biasa beratnya. Menteri-menterinya dari berbagai macam parpol, dan gubernur, bupati dan walikotanya juga dari berasal dari berbagai macam parpol. Jalan seperti apa lantas pemerintah dianggap curang. Justru dari bermacam-macam parpol menjadi penyeimbang, saling mengawasi, saling mengontrol, dan mungkin dalam arti yang lebih luas, sebagai bagian chek and balance," jelas SBY,
"Sekarang, pada saat pemungutan suara dan perhitungan suara berlapis-lapis pengawasan, ada unsur KPU, ada Panwaslu , ada unsur peserta partai pemilu, ada Polri dan pemantau yang lain. Kalau ada kenekatan melakukan kecurangan, tidak semudah yang dibayangkan. Naik ke kecamatan, semua ingin mengawal sampai ke tingkat pusat," kata SBY.
"KPU itu independen, Bawaslu independen. Dulu barangkali penyelenggaranya pemerintah. Sekarang KPU tidak bertanggungjawab kepada Presiden, KPU tidak di bawah Presiden, KPU hanya melapor perkembangan kepada Presiden dan Ketua DPR. Begitu amanah Undang-undang," kata Presiden SBY. (win)



