Berita Utama

Presiden Menerima PP Muhammadiyah

Din Syamsudin: Kami Menolak Keinginan Mendelegitimasi Pemilu

Presiden SBY, Rabu (29/4) siang, menerima PP Muhammadiyah yang dipimpin Din Syamsudin, di Kantor Presiden. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY, Rabu (29/4) siang, menerima PP Muhammadiyah yang dipimpin Din Syamsudin, di Kantor Presiden. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (29/4) siang, menerima Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dipimpin langsung ketuanya, Din Syamsuddin, di Kantor Presiden. Kunjungan PP Muhammadiyah ini untuk menyampaikan laporan hasil-hasil Tanwir Muhammadiyah yang berlangsung pada 5 hingga 8 Maret 2009 lalu, yang dibuka Presiden SBY.

Menurut Jubir Presiden, Andi A.Mallarangeng, Presiden SBY menyambut baik pemikiran-pemikiran yang dihasilkan pada Tanwir tersebut. ”Presiden juga berharap agar organisasi seperti Muhammadiyah juga dapat memberikan masukan tentang bagaimana pikiran-pikiran kebangsaan ke depan dalam rangka membangun terus negara kita,” ujar Andi dalam keterangan persnya mendampingi Din Syamsuddin, usai diterima Presiden.

Sementara itu, Din Syamsuddin mengatakan Muhammdiyah telah mencermati, menelaah, dan mengkaji secara mendalam tentang proses kehidupan kebangsaan yang berlangsung selama ini, khususnya sepuluh tahun terakhir ini sejak era reformasi. Muhammadiyah, ujar Din, melihat banyak hal yang sudah dilakukan pemerintah dan banyak kemajuan yang sudah dicapai, meskipun masih ada yang perlu di perbaiki.

”Kami memilih kata revitalisasi sebagai pikiran bahwa apa yang terjadi selama ini cukup bagus. Bisa dikatakan on the right track. Tetapi, perlu diperkuat kembali dengan menemukan vitalitas dari bangsa dan negara ini untuk diaktualisasikan dalam konteks tantangan, ancaman, dan dinamika,” Din Syamsuddin menambahkan.

Dalam Tanwir Muhammadiyah, ada tiga bidang yang diskusikan secara mendalam, yakni ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Muhammadiyah melihat bahwa paradigma pembangunan yang selama ini dilakukan pemerintah dan negara perlu diperkuat.

”Sudah bagus, dan Presiden SBY beberapa kali menyebutnya sebagai sustainable development with equity dan sustainable growth equity atau pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan. Nah, Muhammadiyah mengajukan konsep yang hampir sama, hanya ada beda di belakangnya, sustainable development with meaning,” kata Din Syamsuddin.

Muhammadiyah juga menilai proses pemilu legislatif 9 April 2009 telah berlangsung relatif tidak ada kericuhan dan kekisruhan. Din berharap kekurangan ini diperbaiki pada Piplres mendatang untuk menambah bobot demokrasi kita. "Tetapi kami menolak pikiran dan tindakan yang ingin mendelegitimasi proses Pemilu Legislatif dan hasil-hasilnya tersebut,” Din Syamsuddin menegaskan. (win)