Berita Utama

Pertemuan Bilateral RI - Vietnam

Tingkatkan Kerjasama Alutsista dan Perbatasan

Presiden SBY bersama PM  Vietnam, Nguyen Tan Dung di  Hotel Shlilla, Pulau Jeju, Korsel, hari Senin (1/6) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY bersama PM Vietnam, Nguyen Tan Dung di Hotel Shlilla, Pulau Jeju, Korsel, hari Senin (1/6) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Pulau Jeju, Korsel: Hari Senin (1/6) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Tan Dung di Ruang Rose, lantai 3, Hotel Shlila. Mendampingi Presiden SBY antara lain, Menlu Hassan Wirajuda, Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu, Menkominfo M. Nuh, Menteri Kehutanan MS. Kaban, Dubes RI untuk Seoul Nicholas Tandi Dammen, dan Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal.

Sebelum pertemuan bilateral berlangsung, Menkominfo, M. Nuh menjelaskan kepada wartawan bahwa kerjasama bilateral harus selalu ditingkatkan dalam berbagai bentuk. Salah satu kerjasama bilateral antara Indonesia dan Vietnam yang ingin ditingkatkan adalah kerjasama di bidang pertahanan, terutama di bidang Alutsista atau alat utama sistempersenjataan. “Kita juga punya beberapa perusahaan BUMN yang mengembangan Alutsista, itu juga yang mendasari kerjasama ini. Kerjasama yang kedua adalah kerjasama perbatasan. Karena Vietnam dan Indonesia juga bagian dari perbatasan, maka seringkali setiap kali di daerah perbatasan itu ada illegal fishing dan seterusnya, maka perlu ada kerjasama di perbatasan laut untuk mencegah jangan sampai terjadi illegal fishing,” kata M. Nuh.

Kerjasama perbatasan itu tidak hanya diperlukan bagi kedua negara, Indonesia dan Vietnam saja, tetapi dengan negara-negara tetangga yang lain. “Dengan negara tetangga lain seringkali juga terjadi illegal fishing, sehingga kerjasama bilateral menjadi penting. Para nelayan dari kedua belah pihak tidak selamanya paham jika itu sudah batas wilayah negara lain, mereka hanya tahu mencari ikan saja. Batas wilayah tetap harus dihormati,” tambah M.Nuh. Selain itu, kerjasama bilateral yang akan dibahas adalah menyangkut masalah sosial budaya. (osa)