Berita Utama

Bilateral Indonesia - Korsel

SBY Prihatin Terhadap Uji Coba Nuklir Bawah Tanah Korut

Presiden SBY dan  Presiden Republik Korea, Lee Myung-Bak, sebelum dilakukan pertemuan bilateral kedua negara, di Hotel Hyat, Jeju, Korsel, hari Senin (1/6) siang. (foto:abror/presidensby.info)
Presiden SBY dan Presiden Republik Korea, Lee Myung-Bak, sebelum dilakukan pertemuan bilateral kedua negara, di Hotel Hyat, Jeju, Korsel, hari Senin (1/6) siang. (foto:abror/presidensby.info)
Pulau Jeju, Korsel; Usai mengadakan pertemuan bilateral dengan PM Vietnam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Korea Lee Myung-Bak, di Regency Ballroom, Hotel Hyyat, Senin (1/6) siang. Kedua pemimpin sepakat strategi partnership Indonesia - Korsel terus dikembangkan.

Presiden Myung-Bak mengucapkan terimakasih atas kehadiran Presiden SBY dalam pertemuan perayaan hubungan ASEAN - Korea Selatan di tengah kesibukan pelaksanaan dan keikutsertaan Presiden SBY pada Pemilihan Presiden bulan Juli mendatang. "Kami sangat menghormati dan berterimakasih atas kehadiran bapak dalam pertemuan ini, di tengah kesibukan anda di dalam negeri. Saya harap keindahan pemandangan di Pulau Jeju bisa memberikan tenaga baru bagi anda menghadapi kesibukan itu," kata Presiden Myun Bak saat memulai pertemuan bilateral antar kedua negara.

Presiden SBY dalam sambutan balasannya mengakui bahwa ia akan sangat sibuk setibanya kembali ke Indonesia, namun kehadirannya di Korea Selatan ini sangat penting, bukan saja untuk mempererat hubungan dengan pemerintah Korea Selatan, tetapi juga untuk meningkatkan hubungan antara ASEAN dengan Korea Selatan. Presiden SBY juga menjelaskan bahwa secara bilateral, hubungan antara Indonesia dengan Korea Selatan selama ini berjalan sangat baik terutama setelah ditandatanganinya kesepakatan strategic partnership kedua negara.

"Hubungan kita setelah terjadinya strategic partnership terlihat semakin baik. Hubungan dagang kita terus meningkat terlihat dari volume perdagangan kedua negara yang mencapai 19,3 miliar dolar AS tahun 2008 yang kita harapkan terus meningkat," kata SBY.

Sementara itu, Juru Bicara Presiden, Dino Patti Djalal usai pertemuan mengatakan Presiden Lee Myun Bak sangat menghargai dan berterimakasih atas kehadiran Presiden Yudhoyono yang disebutnya sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. "Akan beda pertemuan ini jika Presiden Yudhoyono tidak datang," kata Dino menirukan pernyataan Presiden Lee. “Sejumlah isu dibicarakan dalam pertemuan bilateral itu antara lain soal tenaga kerja Indonesia, pariwisata, pendidikan, kehutanan, ketahanan pangan dan energi serta kasus nuklir Korea Utara,” tambahnya.

“Satu hal khusus yang dibahas mengenai TKI, sewaktu kunjungan Myung-Bak ke Indonesia, Presiden SBY
meminta perhatian pemerintah Korea Selatan terhadap nasib TKI di Korea Selatan. Ada sekitar 30 ribu waktu itu dijanjikan oleh Presiden Korsel akan diperhatikan dan hari ini beliau melaporkan kepada Presiden SBY bahwa sekitar 90 persen TKI yang bermasalah telah lakukan pelatihan-pelatihan. Targetnya 100 persen sehingga TKI tersebut tidak perlu diPHK dan kembali ke Indonesia,” jelas Dino. Presiden Myung-Bak menepati janjinya kepada Presiden SBY karena ia tahu hal ini penting bagi Presiden SBY dan rakyat Indonesia.

Ada kesepakatan untuk menggalakkan turisme. “Setahun ada sekitar 3 juta turis Korea ke Asia Tenggara dan baru 10 persen yang ke Indonesia. “Padahal kita tahu Indonesia jelas lebih besar,” kata Dino. “Untuk kerjasama pendidikan, Korea menyatakan ada sekitar 7.000 pelajar dari Asia Tenggara yang akan diundang belajar di Korea di berbagai bidang teknik, engineering, IT. Presiden Myung-Bak berharap banyak mahasiswa Indonesia yang masuk dalam program ini,” tambah Dino.

Bidang kehutanan, selama ini ada kerjasama menajemen hutan. “Telah disediakan lahan 500 ribu hektar untuk Korea, tapi sampai sekarang baru 250 hektar yang dimanfaatkan. Kedua pihak sepakat ini akan terus digalakan. Dalam waktu dekat akan ada delegasi Indonesia ke Korea yang akan menindaklanjutinya. Jadi melibatkan investasi dari perusahaan
Korea untuk manajemen hutan,” terang Dino.

Presiden SBY juga menekankan pentingnya bidang ,i>food and energy security antara Korsel dan Indonesia terutama dibidang riset dan development, karena mereka mempunyai R&D yang kuat. “Tadi juga dibahas masalah Korut. Presiden SBY prihatin terhadap uji coba nuklir bawah tanah Korut. Peru dijaga stabiltas kawasan, terutama pembicaraan six-party talk yang harus terus jalan karena ini jalan terbaik untuk mencari solusi.

Mendampingi Presiden SBY antara lain, Menlu Hassan Wirajuda, Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu, Menkominfo M. Nuh, Menteri Kehutanan MS. Kaban, Dubes RI untuk Seou, Nicholas Tandi Dammen, dan Juru Bicara Presiden, Dino Patti Djalal. (osa)