Berita Utama

SBY di Semarang:

Tidak Ada Tempat Untuk Sikap Diskriminatif di Indonesia

Presiden SBY menerima plakat gunungan dari pasangan penyanyi cilik Geby dan Ananda Erwin, pada acara Malam Apresiasi Kreasi Budaya Anak Bangsa di GOR Jatidiri, Semarang, Jateng, hari Senin (8/6) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menerima plakat gunungan dari pasangan penyanyi cilik Geby dan Ananda Erwin, pada acara Malam Apresiasi Kreasi Budaya Anak Bangsa di GOR Jatidiri, Semarang, Jateng, hari Senin (8/6) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Surakarta: Siapapun pemimpin di negeri ini, pada tingkatan apapun, dalam hati, jiwa dan pikirannya memiliki nilai jatidiri dan empat konsensus dasar, yakni Pancasila, UUD 1945, komitmen terhadap NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri Malam Apresiasi Kreasi Budaya Anak Bangsa di Gelanggang Olahraga Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Senin (8/6).

Ditegaskan Presiden, bila seorang pemimpin bangsa tidak punya konsensus tersebut dalam hatinya, maka ia bukan pemimpin yang tepat di Indonesia. "Semuanya harus berangkat dari hati kita, bukan dengan simbol, bukan dengan kata-kata, dari hati yang paling dalam, iklas tulus. Kalau pemimpin berjiwa seperti itu, memimpin bangsa yang majemuk, insya Allah, perjalanan bangsa ini akan menuju ke arah yang benar," kata SBY.

Presiden juga mengingatkan agar persatuan, kesatuan, dan kebersamaan tetap tumbuh di Indonesia. Siapapun tidak boleh mempunyai sikap politik diskriminatif. "Tidak ada tempat untuk sikap diskriminatif di Indonesia. Satu untuk semua, semua untuk satu, semua untuk semua," SBY menegaskan.

Memang disadari masih ada perbedaan antara yang maju dengan yang belum maju, yang sejahtera dengan yang belum sejahtera, dan yang beruntung dengan yang belum beruntung. "Tidak perlu dipermasalahkan perbedaan itu, tapi justru harus dijembatani melalui apa yang dinamakan solidaritas atau kesetiakawanan," lanjut Presiden SBY. Kesetiakawanan tersebut harus ditumbuhkan mulai dari diri sendiri, dilanjutkan di keluarga, komunitas, dan akhirnya menjadi sikap bangsa. "Bila itu sudah mendarahdaging, maka Indonesia akan terus kokoh, maju dan bermartabat, " Presiden menambahkan.

Indonesia sudah sejak lama mempertontonkan kerukunan dan keharmonisan dari tiga peradaban, yakni peradaban Timur, Barat dan Islam. "Indonesia dapat menjadi contoh dan dapat memprakarsai perdamaian yang menghilangkan perbedaan di tingkat dunia," ujar Presiden.

Ketua Panitia, Soleh Dahlan, mengucapkan terima kasih kepada Presiden SBY atas kepemimpinnanya sehingga rakyat dapat berkiprah dalam berbagai sektor kehidupan dengan lebih nyaman dan damai. Atas kepemimpinan SBY pula, Dahlan mengatakan, Indonesia mampu menghadapi krisis ekonomi dunia sehingga berhasil mempertahankan pertumbuhan positif terbesar ketiga setelah China dan India. "Atas dasar itulah, tak berlebihan kiranya, bila saya, atas nama komunitas warga di Jawa Tengah masih mengharapkan kepemimpinan yang berkelanjutan dari SBY agar Indonesia tetap nyaman dan damai," kata Soleh.

Malam apresiasi ini dimeriahkan oleh Mike 'Idol' dan pasangan cilik pelajar SD, Ananda Geby dan Ananda Erwin. Keduanya pernah memecahkan rekor Muri dengan bernyanyi medley selama 2,5 jam nonstop tanpa partitur. Keduanya menyerahkan plakat gunungan kepada Presiden SBY. (win)