Berita Utama

Silaturahmi dengan Persatuan Wredatama RI

Negara Masih Perlu Kontribusi Para Wredatama

Presiden SBY menerima peserta Rakernas dan Munaslub Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) di Istana Negara, hari Jumat (19/6) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menerima peserta Rakernas dan Munaslub Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) di Istana Negara, hari Jumat (19/6) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Jumat (19/6) pagi bersilaturahim dengan Peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Tahun 2009 di Istana Negara. PWRI, satu-satunya wadah organisasi bagi para pensiunan pegawai negeri sipil, mengadakan Rakernas dan Munaslub selama empat hari dari tanggal 17 sampai 20 Juni 2009.

Ketua Umum PWRI, Ruchadi melaporkan bahwa PWRI yang semula didirikan oleh 18 perkumpulan pegawai RI pada tanggal 24 Juli 1962 di Yogyakarta, sekarang sudah berkembang menjadi organisasi berskala nasional dengan pusatnya di Jakarta. “Daerah-daerah di tiap propinsi, cabang-cabang di tiap kabupaten/kota serta ranting-ranting di tiap kecamatan seluruh Indonesia, serta organisasi pensiunan departemen, LPND dan BUMN, sejak tahun 1993 bergabung kedalam PWRI,” kata Ruchadi.

“Jumlah anggotanya dewasa ini mencapai 4,5 juta orang, terdiri dari para pensiunan PNS, pensiunan BUMN, mantan para pejabat negara serta perangkat desa,” lanjutnya. “Meskipun pikiran dan tenaga tidak sejernih ketika masa muda dulu, namun para pensiunan ini tetap mencintai Indonesia dan terus berjuang untuk kepentingan Indonesia,” ujar Ruchadi. Mewakili seluruh pensiunan di seluruh Indonesia, Ruchadi mengucapkan terimakasih kepada Presiden SBY karena selalu memikirkan kesejahteraan para pensiunan dan menaikkan uang pension setahap demi setahap.

Dalam pidato pengarahannya, Presiden SBY mengutip istilah dalam dunia militer yang berbunyi the old soldier never die, artinya prajurit tua itu tidak pernah mati, mereka hanya menghilang pelan-pelan. “Maknanya adalah pengabdian kepada bangsa dan negara tidak pernah mengenal batas akhir. Demikian juga Bapak dan Ibu dan keluarga besar Wredatama. Bapak dan Ibu tetap menjadi bagian utuh dari bangsa Indonesia. Bapak dan Ibu bukan hanya menjadi bagian dari masa lampau, bukan hanya berperan di masa lampau, tetapi di masa kini dan masa depanpun, bangsa dan negara masih memerlukan kontribusi dari para Wredatama dalam bentuk apapun,” jelas SBY.

Kepada para Wredatama yang hadir, Presiden SBY memaparkan tiga harapan dan ajakannya. “Pertama, teruslah mengabdi kepada bangsa dan negara. Apapun pengabdian dan peran yang dijalankan itu mulia, ibadah, dan berguna bagi rakyat. Kedua, saya meminta doa agar perekonomian di negeri ini tumbuh, adil dan berimbang agar terus dapat mensejahterakan rakyat. Kenapa, pemerintah bisa menaikkan gaji aparat negara dan uangan pension para Wredatama, karena penerimaan negara kita juga naik. Agar ekonomi tumbuh, syaratnya negara harus aman dan hukum harus ditegakkan. Ketiga, gunakan hak pilih dalam pemilu, dan jangan ikut-ikutanan menjadi golput,” seru SBY.


Hadir antara lain, Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensos Bachtiar Chamsyah, Seskab Sudi Silalahi, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkominfo M.Nuh, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. (osa)