Berita Utama

SBY di Balikpapan

"Muncul Isu Yang Mendiskreditkan Para Menteri, Saya Harus Lindungi Mereka"

SBY disambut massa usai kampanye di Dome Convention Centre, Kalimantan Timur, hari Minggu (28/6) siang. (foto: anung/presidensby.info)
SBY disambut massa usai kampanye di Dome Convention Centre, Kalimantan Timur, hari Minggu (28/6) siang. (foto: anung/presidensby.info)
Balikpapan: Hari Minggu (28/6) siang, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kampanye sebagai Capres, di Dome Convention Centre, Kalimantan Timur. SBY datang didampingi Ibu Ani dan putranya, Edhie Baskoro Yudhoyono. Hadir pula
Wakil ketua Tim Kampanye SBY-Boediono Djoko Suyanto, Ketum PPP Suryadharma Ali, Presiden PKS Tifatul Sembiring, Sekjen Dewan Suro PKB Andi M. Ramli, dan Ali Taher Marangsong, dari DPP PAN.

Dalam orasinya, SBY memberi penjelasan dan tanggapan atas beberapa hal yang menurutnya tidak tepat. Sebelumnya SBY mengungkapkan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia karena harus menjelaskan duduk persoalan tersebut dalam kapasitasnya sebagai Presiden. "Ada isu bermunculan yang bernada mendiskreditkan para menteri yang sedang menjalankan tugas dalam kabinet. Saya harus melindungi mereka bila mendapatkan serangan karena loyalitas itu timbal balik," kata SBY.

"Ini mengenai sebuah pengambilan keputusan kebijakan yang ada dalam jajaran kabinet. Sebenarnya ini persoalan internal, tapi karena sudah dibuka ke sana ke mari, maka harus diluruskan," jelas SBY. "Presiden adalah kepala pemerintahan dan pengambil keputusan. Keputusan itu bisa berasal dari Presiden kemudian dijalankan kabinet, dan bisa juga berasal dari saran anggota kabinet dan kemudian Presiden memutuskan. Sangat mungkin bahwa dalam proses itu ada saran dan pendapat para menteri yang berbeda satu sama lain, tapi Presiden lah pengambil keputusan," lanjut SBY.

Keputusan tersebut, kata SBY bisa sangat cepat bila dalam keadaan genting seperti bencana, tapi bisa juga berlangsung selama 1 sampai 2 hari atau minggu bila membutuhkan pertimbangan. "Itulah proses pengambilan keputusan. Dari Presiden turun ke bawah atau dari menteri kepada Presiden. Yang sangat saya sesalkan adalah ketika ada saran dari menteri tertentu dianggap salah, dan dibuka ke publik. Dalam kaitan ini tidak boleh proses dinamika itu dianggap saran menteri-menteri itu tidak tepat," terang SBY.

"Saya ambil contoh ketika mantan Menko Perekonomian Boediono dikatakan menghambat proses pembangunan listrik 10.000 megawatt. Dulunya begitu ada ide pembangunan tersebut, dalam perkembangannya ada mitra kita yang tidak minta garansi, tiba-tiba meminta garansi lunak, terus berkembang lagi menjadi garansi penuh. Kemudian menteri memberikan pendapat apa tepat negara menjamin proyek swasta. Bagaimana kalau pihak swasta tersebut tidak bisa menjalankan dengan baik atau gagal?" tambahnya.

"Kemudian akhirnya saya ijinkan untuk memberikan garansi penuh. Jadi tidak tepat jika dalam pengambilan keputusan pendapat seseorang lantas dijelek-jelekkan. Ingat, mereka tidak mempunyai kepentingan pribadi. Kita ingin agar jalannya lurus, tidak miring. Sederhana saja, agar baik bagi pemerintahan yang bersih. Kami ingin bekerja bersih, sesuai aturan, sehingga kami ingin memberikan tradisi pengambilan keputusan secara benar. Saya minta para menteri tetap tabah, sayalah yang bertanggungjawab atas pengambilan keputusan," terang SBY. Dalam hal ini SBY merasa harus melindungi menteri-menterinya. "Tapi kalau mereka berbuat kesalahan, tentu tidak saya lindungi. Tidak ada yang kebal hukum," tegas SBY.

Rombongan SBY berangkat dari Bandar Udara Ahmad Yani, Semarang dan tiba di Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur pada hari Minggu (28/6) siang. (osa)