Berita Utama

Wayang Kulit Kembali Digelar di Istana

Presiden SBY menyerahkan tokoh Yudhistira kepada dalang Ki Purbo Asmoro, sebelum pagelaran lakon Raja Suya Indraprastha, di Istana Negara, hari Jumat (7/8) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menyerahkan tokoh Yudhistira kepada dalang Ki Purbo Asmoro, sebelum pagelaran lakon Raja Suya Indraprastha, di Istana Negara, hari Jumat (7/8) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Menyambut Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdakaan Ke - 64 Republik Indonesia, hari Jumat (7/8) malam digelar wayang kulit purwo dengan dalang Dalang Ki Purbo Asmoro, di Istana Negara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara bersama staf istana dan undangan turut menyaksikan pagelaran yang mengangkat lakon Raja Suya Indraprastha.

Wayang kulit Purwo adalah bagian dari budaya nasional yang mengandung nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral, serta mengandung filosofi yang mengajarkan berbagai nilai-nilai universal untuk menapaki kehidupan berbangsa dan bernegara secara lebih arif dan lebih bijaksana

Wayang kulit purwo ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, disamping juga Lomba Cipta Seni Anak Tingkat Nasional, penganugerahan tanda kehormatan, pengukuhan Paskibraka, serta Apel Kehormatan dan renungan suci di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata. Puncak peringatan Proklamasi Kemerdekaan adalah upacara peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara, yang dilanjutkan dengan ramah tamah bersama para Perintis Kemerdekaan, Veteran, Purnawirawan, Wredhatama, serta Wara-kawuri dan Angkatan 45. Kegiatan lainnya yang turut menyemarakkan Pertunjukan Kesenian dan Marching Band dan Pawai Budaya Nusantara

Dalam laporannya, Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, Ekotjipto mengatakan bahwa pagelaran wayang di Istana Negara kali ini disebut sebagai kembalinya sebuah tradisi karena acara ini dahulu pernah dilakukan oleh Presiden Bung Karno. "Harapan kami pergelaran ini akan berkesinambungan, dan bukan hanya Wayang Purwa Jawa saja tetapi juga wayang yang lain. Wayang Indonesia yang masih digemari masyarakat luas saat ini, selain Wayang Kulit Purwa adalah Wayang Golek Sunda, Wayang Bali, Wayang Sasak (Lombok), Wayang Palembang dan Wayang Banjar," ujarnya.

Pagelaran wayang di Istana Negara ini, bagi para seniman pedalangan, lanjutnya, merupakan suatu kehormatan karena tampil di tempat yang prestisius dan itu menjadi dambaan mereka. Dalam dialog budaya dengan komunitas pedalangan pada tanggal 27 Juni 2009 di Sidoarjo terungkap bahwa Presiden SBY sangat mencintai wayang sejak usia kanak-kanak. Presiden SBY memiliki kebiasaan nonton wayang dengan memakai sarung dan sering tertidur di panggung.

"Untuk persiapan pagelaran malam ini, Persatuan Pedalangan Indonesia diberitahu bahwa pergelaran akan menggunakan wayang dan gamelan yang ada istana. Kami diminta mengecek terutama gamelan karena perlu dilaras atau distem. Kemudian kami mengecek semuanya, gamelan dan wayang, menyetem dan merapikan sehingga siap pada waktunya. Kami surprise karena gamelan dan wayang itu semua berinisial SBY, ternyata itu adalah milik Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Kami para pecinta wayang semakin yakin dan tidak ragu beliau adalah benar-benar pecinta wayang," kata Ekotjipto. Usai memberikan laporan, Ketua Umum Pepadi menyerahkan plakat Pepadi kepada Presiden SBY.

Presiden SBY kemudian menyerahkan tokoh wayang Yudhistira kepada dalang Ki Purbo Asmoro, sebagai tanda dimulainya Pagelaran Wayang Purwo dengan lakon Raja Suya Indraprastha. Pagelaran Wayang tersebut dibagi menjadi empat adegan, yaitu Limbukan dan persembahan gending pada pukul 22.10 WIB, Budalan Wadya dan Perang Gagal pada pukul 23.10 WIB, Gara-gara hingga Perang Kembang pada pukul 23.40 WIB, serta Giribajra hingga Tancep Kayon pada pukul 02.10 WIB. (win)