Berita Utama
Kamis, 27 Agustus 2009, 19:00:02 WIB
Buka Puasa di Istana Negara
Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla pada acara buka puasa bersama di Istana Negara, hari Kamis ( 27/8) petang. (foto: cahyo/presidensby.info)
Sambil menunggu adzan Maghrib dikumandangkan, Kepala Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar menyampaikan ceramah agama berjudul Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Dalam ceramahnya Atho Mudzhar antara lain menjelaskan bahwa Islam sebagai rahmat artinya Islam adalah jalan keselamatan, kemaslahatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. "Dalam konsep Islam, jalan keselamatan itu terdiri atas tiga komponen utama yaitu pertama kepercayaan akan adanya Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, pencipta jagatraya, dan tempat kembali kehidupan ruh manusia setelah meninggal dunia. Kedua, kepribadian yang mulia atau akhlakul karimah, yang berisi penghargaan tinggi terhadap sesama manusia dan sifat-sifat mulia, seperti kejujuran, keikhlasan, kebersamaan, dan suka menolong. Ketiga, aturan yang ditetapkan Allah SWT dalam membangun hubungan dengan Allah SWT atau hablum min Allah dan hubungan dengan sesama manusia hablum minan nas," ujarnya.
"Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin juga mengandung arti bahwa Islam adalah agama universal, agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Universalitas Islam itu ditandai minimal oleh tiga faktor, yaitu pertama, ajakan kepada semua umat manusia tanpa memandang ras, suku, asal-usul, dan lingkungan budaya. Kedua, Islam mengajak manusia untuk menggunakan akalnya dan hanya memberi tanggung jawab kepada orang yang sehat akalnya. Ketiga, kitab suci Islam, Al Qur’an, sejak diwahyukan pada kali pertama sampai periode pengumpulannya menjadi mushaf, tetap terjaga keasliannya tanpa ada perubahan atau kesalahan penyalinan sedikitpun," papar Atho Mudzhar.
Namun, lanjutnya, ada dua tantangan yang dihadapi kaum muslimin di dunia dalam mengusung konsep dan peran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin sekarang ini, yaitu tantangan ketidakpahaman sebagian pemeluk Islam tentang agamanya dan tantangan penyimpangan pemahaman dan pembajakan Islam oleh kelompok garis keras tertentu. "Mungkin sudah saatnya sekarang ini bagi kelompok mayoritas muslim Indonesia yang moderat itu untuk tidak hanya menjadi silent majority, tetapi harus bersatu padu dan lebih tegas lagi dalam menyatakan pandangan dan sikap mereka, sehingga masyarakat luas akan lebih mudah mengambil posisi dan tidak memberi peluang sedikitpun bagi persembunyian para pembajak Islam itu. Selain itu, mungkin juga sekarang ini adalah saat yang tepat bagi kaum muslimin Indonesia untuk lebih memfokuskan perhatian kepada usaha-usaha perbaikan pendidikan, kesehatan dan ekonomi rakyat," tambahnya.
Presiden SBY dalam sambutan singkatnya mengatakan bahwa segala yang bersumber dari firman Allah SWT maupun sabda rasul, merupakan karunia dan jalan untuk menuju keselamatan dan kesejahteraan kehidupan umat manusia. "Juga menjadi jalan untuk menuju keselamatan alam semesta ciptaan Allah SWT dengan segala kehidupannya. Dan yang ketiga, yaitu bahwa nilai - nilai Islam ternyata juga bersifat universal yang dapat dikontribusikan bagi pembangunan tatanan dunia agar lebih aman, adil da sejahtera di tingkat masyarakat global," ujar SBY.
Menurut SBY, bagi kaum muslimin yang sungguh memahami ajaran agama Islam, segala sesuatu yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits adalah benar. "Demikian juga bagi saudara-saudara kita non Islam akan membenarkan ajaran itu, manakala mereka juga memahami ajaran Islam, dan juga memahami pikiran dan perilaku sebagian sangat besar dari umat Islam sedunia. Ummat Islam berjumlah 1,3 milyar. Sembilan puluh persen lebih mainstream pemikiran dan perilaku Islam, kalau dipahami betul akan menunjukkan bahwa jawaban tadi adalah benar adanya," jelasnya.
Ketika adzan Maghrib dikumandangkan, Presiden SBY beserta Wakil Presiden Jusuf Kalla dan seluruh tamu undangan yang hadir pun berbuka puasa dengan sajian makanan ringan yang disediakan, dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah, kemudian bersantap malam bersama di kawasan Istana Negara. (mit)



