Berita Utama

Presiden: Sepuluh Tahun Lalu Banyak yang Meramal Bangsa Indonesia Akan Terpuruk

Presiden SBY menyampaikan  sambutan pada pembukaan National Summit 2009 di Hotel Bumi Karsa Bidakara, Jakarta, hari Kamis (29/10) pagi .(foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan sambutan pada pembukaan National Summit 2009 di Hotel Bumi Karsa Bidakara, Jakarta, hari Kamis (29/10) pagi .(foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Sepuluh tahun yang lalu banyak yang meramalkan bangsa Indonesia akan terpuruk, dan menjadi seperti Balkanisasi , negara-negara kecil. Namun semua ramalan itu tidak tepat. Kita bangsa yang tidak mudah menyerah, dan kita masih ada. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hari Kamis (29/10) pagi, saat membuka secara resmi National Summit 2009 di Hotel Bumi Karsa Bidakara. Acara ini juga dihadiri Wakil Presiden Boediono dan semua menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.

Dalam Sambutan yang diberi judul Siapa Bilang Indonesia Tidak Bisa, Presiden SBY mengatakan bahwa bangsa Indonesia ini sering dicemooh, suka diramal oleh banyak pihak, hal-hal yang buruk. Mungkin tetangga kita, mungkin negara lain, mungkin organisasi di tingkat dunia, mungkin dalam tubuh kita sendiri, di negeri kita ini. Misalnya, ingat 10 tahun yang lalu kita diramalkan bubar dan terjadi Balkanisasi, menjadi negara-negara kecil, dianggap negara gagal. Tetapi luar biasa, Tuhan Maha besar, bangsa kita tidak seperti itu, mudah menyerah dan kita masih seperti ini. Ada yang pesimis, ketika kita mengatakan awal reformasi dulu, Indonesia ingin membangun demokrasi dan membangun sistem politik yang baik, malah dicemooh, mana bisa,” kata SBY.

”Ketika kita bersepakat memajukan hak-hak asasi manusia, lagi-lagi diejek, mana mungkin. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini, tidak terjadi kasus pelanggaran HAM berat, dan kita bisa makin menghormati, makin meletakkan hak-hak azasi manusia dalam tempatnya yang mulia di negeri ini , ” tambahnya. ”Dulu ada gagasan pemilihan presiden dan wakil presiden langsung, pemilihan gubernur dan wakil gubernur langsung, pemilihan bupati dan wakil bupati serta pemilihan walikota dan wakil walikota langsung, diejek, lagi mimpi lagi . Sekarang tidak ada hasil di ruangan ini yang tidak dipilih secara langsung oleh rakyat," kata SBY pada acara yang juga dihadiri gubernur, bupati dan walikota se Indonesia ini.

"Aceh telah 32 tahun terus terjadi konflik berdarah. Kita bertekad Aceh selesai secara bermartabat, dengan catatan NKRI tetap tegap dan Merah Putih tetap berkibar. Namun dianggap itu hanya wacana. Lalu berantas korupsi, tidak mungkin Indonesia dapat berantas korupsi. Pokoknya lautan korupsi, dianggap hanya teori. Sekarang makin efektif, memang belum selesai, masih panjang, tapi tidakkah makin efektif? Bagi saya yang paling baik mencegah korupsi, jangan menjebak seseorang. Kurang upaya mencegah, akhirnya korupsi terjadi. Negara rugi, belum tentu yang bisa dikorupsi bisa kembali, kemudia proses hukumnya panjang . Maka pemberantasan korupsi kedepan harus lebih mengutamakan pencegahaan korupsi,” tegas SBY.

Tahun lalu saat terjadinya krisis keuangan global, lanjut SBY, lagi-lagi Indonesia diramalkan hancur. ”Namun ketika kita bersepakat tahun lalu, kita bekerja siang dan malam dengan tujuan mengurangi dampak krisis perekonomian global, kita lagi-lagi diejek , ah ..itu hanya isapan jempol ,” kata SBY.

”Saya kira saatnya kita mempertahankan harga diri kita dan kehormatan kita. Jangan diam saja kalau kita diejek, tetapi caranya jangan kita ngambek. Buktikan bahwa Indonesia tidak seperti itu, dianggap tidak bisa, wacana, teori. Mari kita buktikan. Saya punya keyakinan kita bisa. Bahkan yang sering mengejek sekarang-sekarang ini repot. Oleh karena itu hentikanlah pikiran-pikiran negatif, suka mengejek, suka mencerca dan mari kita bangun evolusi jiwa yang terang, berpkir posistif dan optimis,” kata Presiden SBY. (win)