Berita Utama

Di Singapura

Presiden SBY Pidato pada APEC CEO Summit

Presiden SBY menyampaikan pidato pada APEC CEO Summit, di Suntec International Conference, Singapura, hari Jumat (13/11) sore. (foto: muchlis said/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan pidato pada APEC CEO Summit, di Suntec International Conference, Singapura, hari Jumat (13/11) sore. (foto: muchlis said/presidensby.info)
Singapura: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak percaya bahwa pemerintah yang besar memberi jawaban dari berbagai masalah ekonomi dan keuangan. Jawaban tepat untuk menjawab persoalan tersebut, menurut SBY, adalah pemerintahan yang baik. “Yang kita butuhkan adalah pemerintah yang dapat merespon krisis secara cepat dan tegas,” kata Presiden SBY dalam pidatonya pada APEC CEO Summit, di Suntec International Conference, Jumat (13/11) sore.

Dalam pidato yang berjudul Achieving Balanced Growth: What Must We Do?, Presiden SBY berbagi pokok-pokok penting dari paradigma pemerintah Indonesia ‘pertumbuhan yang berimbang’. “Pertumbuhan Indonesia ditargetkan mencapai 6,3 sampai 6,8 persen untuk lima tahun kedepan. Untuk mencapai hal tersebut, kami harus mengindentifikasi kebutuhan dana sekitar 120 hingga 200 miliar dollar Amerika pertahun,” SBY menerangkan.

“Sekitar 80 persen diharapkan datang dari sektor swasta, baik lokal maupun internasional. Investasi dibutuhkan untuk mengatasi hambatan infrastruktur, merevitalisasi sektor industri dan pertanian, serta industri kreatif dan inovatif,” tambah SBY.

Presiden SBY menjelaskan lima cara bagaimana Indonesia meraih pertumbuhan tersebut, dan pada saat yang bersamaan memastikan pertumbuhan yang berimbang dan inklusif dan bagaimana negara-negara lain dapat menjadi bagian dari keuletan pertumbuhan Indonesia. “Pertama, kami akan melanjutkan membangun kepercayaan dalam pemerintah. Ini berarti melanjutkan dan melengkapi program reformasi birokrasi kami, yang telah disebarkan menteri keuangan khususnya pada reformasi tax dan bea cukai,” SBY menjelaskan.

“Kedua, memastikan lingkungan investasi yang kondusif. Kami akan melanjutkan untuk memperlancar prosedur investasi, mengimplementasikan layanan investasi satu atap, dan memastikan iklim untuk melakukan bisnis di Indonesia semakin membaik,” ujar SBY. “Ketiga, memberikan perhatian pada infrastruktur. Infrastruktur yang paling dibutuhkan dalam waktu dekat adalah pembangkit listrik. Percepatan 10.000 megawatt pertama sedang dalam proses dan 10.000 megawatt berikutnya akan dimulai. Targetnya adalah 40-50 persen dihasilkan dari sumber energi yang bersig seperti geothermal,” lanjut SBY.

Cara keempat, menurut Presiden SBY adalah revitalisasi industri dan pertanian. “Dalam waktu dekat revitalisasi tersebut akan difokuskan pada industri gula dan pupuk, serta meningkatkan produksi untuk memastikan ketahanan pangan dengan daging dan kacang kedelai. Sedangkan untuk jangka panjang, kami akan fokus pada peningkatan daya saing kami pada berbagai industri dan sektor pangan,” terang SBY.

“Kelima, pada pertumbuhan inklusif kami memiliki program komprehensif. Pertama, kami akan meningkatkan garansi skema usaha kecil oleh pemerintah sehingga kami dapat memberikan pinjaman dengan total 20 triliun rupiah atau 2 miliar dollar pertahun. Kedua, target subsidi yang lebih baik dan membangun jaringan pengaman sosial yang efektif,” lanjut SBY.

Pada sesi pidato Presiden SBY di APEC CEO Summit tersebut, CEO Freeport Richard Arkerson bertindak sebagai moderator. Usai menyampaikan pidatonya, Presiden SBY menerima beberapa pertanyaan dari peserta yang hadir. Mendampingi Presiden SBY antara lain, Menlu Marty Natalegawa, Mendag Mari Elka Pangestu, dan Menkeu Sri Mulyani. (osa)