Berita Utama
Minggu, 15 November 2009, 09:42:58 WIB
Breakfast Meeting
Indonesia Dorong Suksesnya Pertemuan Copenhagen
Singapura: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri Breakfast Meeting mengenai perubahan iklim di Hotel Shangri-la Singapore, Minggu (15/11) pagi. Menurut Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal, pertemuan tersebut memang diadakan secara mendadak. “Kita sendiri baru menerima undangan tertulisnya kemarin. Jadi kalau tidak melihat ini dalam buku acara memang ini adalah acara mendadak,” ujar Dino.Tuan rumah dari acara ini adalah Australia dan Meksiko, dengan tamu khusus PM Denmark. Intinya, para pemimpin APEC itu mendengar paparan dari Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengenai persiapan pertemuan perubahan iklim di Copenhagen yang akan diadakan dalam empat minggu kedepan. “Jadi ini lebih merupakan briefing sessión dengan memanfaatkan fórum APEC. Apa saja yang dapat dilakukan untuk mendorong momentum ini dan bagaimana statusnya sekarang,” terang Dino.
Selain dihadiri Presiden SBY, pertemuan tersebut dihadiri pula oleh 18 kepala Negara/pemerintahan yang hadir pada forum APEC. Nampak hadir Presiden Amerika Barack Obama, Presiden China Hu Jintao, Presiden Philipina Gloria Macapagal Aroyo, dan Sultan Brunei Darussalam Halsanal Bolkiah. “Pada intinya Presiden SBY memberikan tanggapan setelah briefing sessión dari PM Denmark bahwa kita harus terus mengusahakan semaksimal mungkin ada hasil yang kongkrit dan optimal di Copenhagen nanti,” Dino menjelaskan.
“Karena memang sekarang ada keprihatinan bahwa Copenhagen itu masih ada kesempatan tidak menghasilkan sesuatu perjanjian yang diinginkan. Sekarang itu arahnya adalah kearah suatu kesepakatan umum dari para pemimpin dunia dan hasilnya nanti akan dirinci dalam proses perundingan selanjutnya. Jadi memang arahnya untuk suatu dokumen tertulis yang lebih ringkas dan bukan 200 halaman perjanjian yang detail. Dan untuk inipun masih sulit untuk mencari konsesnsus antara para pemimpin dunia,” lanjutnya.
Satu hal signifikan yang dikatakan Presiden SBY adalah bahwa beliau akan hadir pada pertemuan perubahan iklim di Copenhagen. “Presiden akan hadir dengan tujuan untuk memberikan dukungan politik dan dukungan moral agar Copenhagen ini sesuai yang diharapkan oleh Bali Roadman itu dapat benar-benar menjadi jejak sejarah untuk mencipatakan konsesus global baru pasca Kyoto. Pesan Presiden SBY adalah jaga terus Bali Roadmap, hasilkan sesuatu kesepakatan yang maksimal di Copenhagen nanti,” tegas Dino.
Tapi yang perlu dicermati, lanjut Dino adalah moodnya, bahwa jangan dianggap bahwa Copenhagen itu otomatis berhasil dan sukses. “Sama seperti Bali dulu, pada menit-menit terakhir baru ada kesepakatan. Itupun setelah diperpanjang satu hari. Kita membaca Copenhagen juga akan sama rumitnya,” kata Dino.
Pertanyaan besarnya adalah kesepakatan antara negara maju dan negara berkembang terutama antara Amerika Serikat dan negara besar seperti India dan China. “Jadi memang kuncinya itu. Presiden SBY selalu menyatakan bahwa negara maju harus berada digaris terdepan, tapi negara berkembang juga harus melakukan sesuatu yang lebih,” jelas Dino.
“Saya harus tekankan disini bahwa Presiden SBY tidak hanya beretorika dan berwacana. Beliau telah mengumumkan bahwa Indonesia akan melakukan terget menurunkan emisi 26 persen pada 2020 dan ini membuktikan bahwa Presiden tidak hanya bicara. Inggris saja targetnya 20 persen sampai 2020. Presiden SBY juga sudah menyatakan akan bersedia naik sampai 41 persen kalau ada perkembangan yang lebih signifikan,” Dino mengungkapkan.
“Kita ingat di Harvard University dulu, ketika Presiden SBY mau pidato, di sana ada demo. Ternyata demonya pro Indonesia dan judulnya thank you Indonesia karena mereka melihat Indonesia memberikan sesuatu yang lebih dan ambisius. Ini suatu signal dari Presiden kepada seluruh dunia bahwa sekarang waktunya berpikir lebih terbuka atau thinking outside the box. Jangan hanya terpaku pada sekat-sekat konvensional yang selama ini berlaku. Kalau kita ingin menghasilkan kesepakatan global inilah kesempatannya. Karena kalau kita kehilangan kesempatan ini, mungkin akan sulit dan dampaknya bagi umat manusia dan planet bumi,” tandas Dino. (osa)



