Berita Utama
Senin, 16 November 2009, 10:00:21 WIB
Presiden SBY:
Politik Luar Negeri Adalah Bagian Dari Upaya Mencapai Kepentingan Nasional
Singapura: Hari terakhir kunjungan kerja ke Singapura, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Senin (16/11) pagi, memberikan keterangan pers kepada wartawan media Indonesia, di Hotel Marina Mandarin. Kepada wartawan, Presiden SBY menjelaskan tentang pelaksanaan tugas dalam mengikuti berbagai kegiatan di Malaysia dan Singapura, baik yang bersifat bilateral, regional, multilateral, maupun berkaitan dengan dunia usaha dan elemen lain.Pada hakekatnya, menurut SBY, politik luar negeri adalah kelanjutan dari politik nasional kita, atau bagian dari upaya untuk mencapai kepentingan nasional kita. “Untuk itu terhadap hiruk pikuk politik luar negeri kita, dinamika regional dan internasional yang sangat tinggi, jangan kehilangan orientasi, apa sesungguhnya yang ingin kita capai dalam kunjungan lima hari ini,” seru SBY.
“Jangan lupa bahwa apa yang kita lakukan lima hari ini, jika kita menjadikannya sebagai modal dan ditindaklanjuti secara cerdas dalam kerjasama internasional kita, paling tidak lima tahun mendatang akan mendapatkan manfaat yang tidak kecil bagi pembangunan di tanah air,” tegasnya.
"Pembicaraan substantif saya selama lima hari ini, dengan PM Malaysia, PM Singapura, dengan berbagai pemimpin dunia di sela-sela APEC, Presiden China, Presiden AS, PM Selandia Baru, PM Australia, PM Thailand, PM Kamboja, dan sejumlah pemimpin ekonomi di sela-sela retreat, semua juga berkait dengan kepentingan nasional Indonesia. Tidak ada satupun kegiatan yang saya lakukan, yang tidak punya tujuan. Oleh karena itu sekembali di tanah air, saya akan teruskan pada pemerintahan terkait, tindak lanjut apa yang mesti kita lakukan, sehingga tidak sia-sia apa yang kita lakukan di kedua negara ini dalam upaya meningkatkan kerjasama dan kemitraan kita dengan negara-negara sahabat,” SBY menjelaskan.
“Yang menjadi kepentingan dan misi dari pemerintahan yang saya pimpin untuk lima tahun mendatang adalah melanjutkan dan meningkatkan pembangunan ekonomi dengan sasaran kita bisa mencapai pertumbuhan 7 persen atau lebih pada tahun 2014 nanti. Pertumbuhan itu disertai pemerataan, maka dapat kita gunakan untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh,” terang SBY.
Agar kita bisa mencapai pertumbuhan 7 persen itu, lanjut SBY, dibutuhkan potensi sumber daya atau modal. Sumber daya yang paling menonjol adalah diperlukan investasi. “Investasi berasal dari, pertama pemerintah bisa mengeluarkan pembiayaan, government spending. Kedua, mengundang swasta dalam negeri di pusat atau di daerah. Ketiga, setelah kita hitung dengan kebutuhan kita, itupun belum cukup, karena kita ingin memiliki pertumbuhan yang tinggi, maka kita mengundang sahabat-sabahabat kita dari luar negeri yang disebut dengan penanaman modal asing. Harapan kita semua itu menjadi cukup,” ujar SBY.
“Kalau kita ingin mencapai pertumbuhan GDP 7 persen, maka tiap tahunnya diperlukan rata-rata sekitar 200 miliar dollar AS. Oleh karena itu meskipun kita mobilisasi habis-habisan dari APBN dan APBD kita, dari situ untuk belanja modal. Itu paling-paling hanya sekitar 15 persen saja. Kemudian kita mobilisasi kemampuan swasta di dalam negeri. Kalau kita hitung-hitung jumlahnya hanya sekitar 45 - 55 persen saja dari total yang kita perlukan. Berarti sekitar 1.000 triliun rupiah, itulah yang kita perlukan tiap tahunnya dari kerjasama dengan negara sahabat agar kita bisa mencapai sasaran pembangunan itu,” SBY menerangkan.
"Itulah mengapa, sejak lima tahun yang lalu saya selalu aktif untuk menggalang kerjasama itu dan lima tahun kedepan akan makin aktif lagi," tambahnya. Mendampingi Presiden SBY saat memberikan keterangan persnya antara lain, Menlu Marty Natalegawa, Menteri Perindustrian MS. Hidayat, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Kepala BKPM Gita Wirjawan, dan Duta Besar Indonesia untuk Singapura Wardhana. Usai memberikan keterangan pers, rombongan resmi Presiden SBY meninggalkan Hotel Marina Mandarin menuju Bandara Internasional Changi, untuk selanjutnya bertolak kembali menuju Indonesia. (osa)



