Berita Utama
Senin, 16 November 2009, 11:06:40 WIB
Presiden SBY:
Agar Kopenhagen Tak Gagal, Pemimpin Dunia Harus Beri Mandat yang Kuat
Singapura: Di sela-sela pertemuan APEC, para kepala negara/pemerintahan negara APEC juga membahas cukup mendalam tentang perkembangan agenda konferensi perubahan iklim yang akan diselenggaran bulan depan di Kopenhagen, Denmark. “Kemarin secara mendadak ada breakfast meeting untuk mendengarkan paparan dari PM Denmark yang terbang khusus ke Singapura, tentang proses dan progress di Kopenhagen,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan persnya di Hotel Marina Mandarin, Senin (16/11) pagi.“Saudara tentu mengikuti bahwa banyak yang pesimis, skeptisme, dan sudah mulai mengatakan tidak akan berhasil. Saya dimintai pandangan dan posisi kemarin dalam pertemuan itu, dan juga dalam ASEAN-AS. Saya ceritakan apa yang kita alami di Bali dulu. Kalau kita tidak pandai mengelola, di Kopenhagen akan sama seperti di Bali, sampai dicapainya Bali Roadmap dan Bali Action Plan. Atas dasar pengalaman itulah, para pemimpin harus memberikan mandat dan petunjuk yang kuat. Kalau tidak, hampir pasti akan macet,” terang SBY.
Presiden SBY mengajak semua pemimpin untuk memberikan komitmen dan mandatnya kepada para juru runding . “Kalau Kopenhagen gagal, kita punya banyak pekerjaan rumah. Banyak negara yang sudah mengalami, kalau air laut naik terus, berapa ribu pulau kita yang kecil-kecil akan tenggelam. Belum kemarau panjang, hujan lebat, topan, dan lain-lain. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai memelihara hutan kita, menjadi aksi yang akan sangat kita lakukan dengan serius di masa mendatang, sehingga hutan bisa membawa kesejahteraan bagi rakyat kita. Dan banyak lagi yang harus kita lakukan,” SBY menyerukan.
“Namun yang menjadi kekhawatiran besar dalam APEC dan pertemuan serupa selama kita berada di Singapura adalah kalau Copenhagen tidak menghasilkan sesuatu. Oleh karena itu dalam intervensi saya kemarin, saya katakan, yang harus kita capai paling tidak di Copenhagen adalah konsensus yang mengikat secara hukum dengan waktu yang jelas dan target yang kongkrit sesuai dengan temuan ilmiah,” jelas Presiden SBY.
Indonesia memiliki rencana yang sedang dimatangkan, dan insya Allah minggu depan akan lahir posisi Indonesia yang akan dibawa ke Kopenhagen. “Kita berencana mengurangi 26 persen emisi karbon kita. Tentu saja Indonesia, meskipun kita sangat ingin lima tahun mendatang dan seterusnya memelihara lingkungan, tetapi kita tentu tidak selalu memiliki sumber daya untuk itu. Kerjasama internasional diperlukan, eksistensi dunia diperlukan, keuangan, transfer teknologi, pembangunan kapasitas, dan lain-lain,” kata SBY.
“Indonesia akan sangat aktif. Saya berencana untuk hadir sendiri karena sebagai tuan rumah dari COP ke 13 di Bali yang disebut-sebut Bali Roadmap dan Bali Action Plan, tentu secara moral saya wajib harus hadir untuk menjadi bagian dari solusi,” ujar Presiden SBY. (osa)



