Berita Utama
Selasa, 8 Desember 2009, 11:33:59 WIB
Presiden Buka Sidang Ke-4 Asian Parliamentary Assembly
Bandung: Dengan mengucapkan `Basmallah` dan memukul gong, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Selasa (8/12) pagi, membuka Sidang Pleno ke-4 Asian Parliamentary Assembly (APA) di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung. Bandung sengaja dipilih sebagai tempat pertemuan karena di kota ini lahir semangat Konferensi Asia Afrika yang diluncurkan Presiden Soekarno dan beberapa tokoh dunia pada masa itu.Sidang Pleno ke-4 ini berlangsung dari tanggal 8 - 10 Desember 2009. Kali ini diikuti 26 negara anggota, termasuk Indonesia dan empat negara peninjau. Selain itu, hadir pula tiga organisasi peninjau, yaitu Arab Inter-Parliamentary Union (AIPU), Parliamentary Union of OIC Member States (PUIC) dan Inter-Parliamentary Assembly of the Eurasian Economic Community, serta 3 guest of the house dari perwakilan Friedrich-Nauman-Stiftung Fur Die Freheit, Direktur Hanns Seidel Fundation Manila, dan perwakilan Parlemen Amerika Latin. Jumlah keseluruhan adalah 174 peserta.
Sidang APA juga sejalan dengan penyelenggaraan Copenhagen Climate Summit (COP-15), yang akan dilaksanakan seminggu setelah sidang Pleno ke-4 APA ini. Sidang diharapkan melahirkan Deklarasi Bandung yang dapat memberikan dukungan bagi kesuksesan COP-15 dalam memformulasikan rencana penurunan emisi paska Protokol Kyoto dan berakhirnya protokol tersebut pada tahun 2012.
Dalam sambutannya, Presiden SBY mengatakan bahwa tema yang dipilih untuk Sidang Pleno kali ini, sangat erat dengan tekad dan semangat bangsa Indonesia. Tema APA kali ini adalah `Peranan Parlemen Asia dalam Memperkuat Demokrasi, Menuju Perdamaian, Kemakmuran, dan Keadilan di Kawasan Asia`.
"Indonesia tampil sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah melalui transisi yang fundamental hingga dapat mencapai tatanan kehidupan berbangsa yang demokratis. Kami, bangsa Indonesia mempercayai sepenuhnya nilai-nilai dmokrasi, nilai-nilai yang meniadakan semua bentuk diskriminasi dan menjungjung tinggi hak hak asasi serta kebebasan bagi seluruh manusia," SBY menjelaskan.
Bagu bangsa Indonesia, lanjut SBY, dalam masa transisi ini parlemen memiliki peran sangat penting. "Melalui kemitraan dengan pemerintah, parlemen Indonesia telah menghadirkan berbagai peraturan perundang-undangan yang telah membantu mentransformasikan sistem otoritarian menjadi sebuah sistem yang benar-benar mengekspresikan kedaulatan rakyat," Presiden menambahkan.
Namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. "Kita harus terus melanjutkan reformasi birokrasi pada ranah hukum dan keadilan. Kita harus makin mampu memberikan pelayanan publik yang makin baik. Kita juga harus sanggup mengambil langkah terobosan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan sosial politik di tanah air. Kita juga harus terus memberdayakan kelompok masyarakat miskin, sehingga taraf hidupnya dapat terus meningkat, dan dapat ikut berpartisipasi dalam pembangunan," Presiden menandaskan.
Dalam upaya untuk mewujudkan itu semua, Presiden SBY yakin pentingnya kehadiran tata pemerintahan yang baik, dan pentingnya menegakkan check and balances dalam sistem kehidupan bernegara.
Acara pembukaan Sidang Pleno ke-4 APA ini ditutup dengan manis oleh persembahan lagu berjudul Save Our Planet yang dibawakan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Padjajaran. Hadir dalam acara pembukaan tersebut, antara lain, Presiden APA Haddad Adel, Menko Kesra Agung Laksono, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, dan Sekretaris Jenderal APA Najed Hoessinian. (mit)



