Berita Utama

Pertemuan Bilateral Indonesia-Jepang

Hibah Rp 220 Miliar dari Jepang untuk Bangun Jembatan di Nias dan NTT

Presiden SBY dan PM Jepang Yukio Hatoyama memimpin pertemuan bilateral Indonesia - Jepang, di Grand Ballroom 3, Hotel Hyatt, Nusa Dua, Bali, Kamis (10/12) siang. (foto: cahyo/presidensby.info)
Presiden SBY dan PM Jepang Yukio Hatoyama memimpin pertemuan bilateral Indonesia - Jepang, di Grand Ballroom 3, Hotel Hyatt, Nusa Dua, Bali, Kamis (10/12) siang. (foto: cahyo/presidensby.info)
Nusa Dua, Bali; Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama sepakat untuk terus meningkatkan kerjasama di bidang perekonomian dan bidang-bidang lain diantara dua negara. Demikian disampaikan Presiden SBY dalam joint press conference di Ballroom 3, Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali, Kamis (10/12) siang.

"Kami telah bersepakat untuk bekerjasama dalam format Economic Partneship Agreement (EPA). Disamping itu, dalam pertemuan tadi PM Jepang juga menyampaikan bahwa dalam rangka kerjasama dan kemitraan dengan Indonesia, Jepang memberikan bantuan hibah untuk pembangunan jembatan, baik di pulau Nias maupun di NTB yang totalnya sekitar Rp 220 miliar," kata SBY.

Presiden SBY dan PM Hatoyama sempat melakukan pertemuan bilateral lebih kurang 45 menit sebelum pembukaan Bali Democracy Forum II. Keterangan pers bersama ini dilakukan kedua pemimpin usai keduanya menghadiri jamuan santap siang yang diselenggarakan Presiden SBY untuk menghormati tamu-tamunya. Kedua pemimpin mengakui pertemuan bilateral yang mereka lakukan sangat produktif.

"Dalam pertemuan bilateral tadi kami membahas beberapa isu penting yang intinya untuk meningkatkan persahabatan dan kerjasama antara Indonesia - Jepang. Disamping itu juga ada bantuan Jepang dalam rangka climate change dalam bentuk pinjaman lunak dan juga untuk emergency budget spot yang total jumlahnya sekitar Rp 4 triliun. Itu semua menjadi bagian dari kerjasama perekonomian dan kemitraan bilateral diantara Indonesia-Jepang," SBY menerangkan.

Kedua pemimpin juga membahas pentingnya terus menggalakkan kerjasama di bidang investasi. "Saya menyampaikan kepada beliau, Indonesia memberikan peluang kepada partner dari Jepang untuk bekerjsama dalam pembangunan ekonomi dalam bentuk investasi di berbagai sektor perekonomian. Kami juga berharap kerjasama di bidang energi ataupun bidang-bidang lain yang membawa manfaat bersama bagi Indonesia dan Jepang," Presiden SBY menjelaskan.

"Di bidang climate change kami bersepakat untuk bersama-sama mensukseskan Konferensi Kopenhagen. Saya sampaikan pada beliau bahwa Indonesia telah memiliki target untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 26 persen sampai 2020. Oleh karena itulah kerjasama antara Jepang dan Indonesia sangat perlu agar target 26 persen itu dapat kita capai," ujar SBY.

Presiden SBY menyambut baik sebuah kerjasama pelatihan untuk menghadapi bencana alam yang telah disusun dalam format ASEAN Regional Forum Disaster Relief Excercices, dimana Jepang dan Indonesia akan menjadi tuan rumah dalam pelatihan yang akan diselenggarakan di Manado tahun depan. "Kami telah bertemu tiga kali dengan beliau, ini menunjukkan betapa PM Hatoyama memiliki komitmen agar persahabatan dan kerjasama antara Indonesia Jepang terus meningkat dari masa ke masa," seru SBY.

Sementara itu, PM Hatoyama mengatakan, dengan diberlakukannya EPA dari Jepang, akan ada iklim yang lebih baik bagi Jepang untuk berinvestasi di Indonesia. "Indonesia sudah dikenal sebagai negara yang sangat ramah terhadap Jepang dan untuk itu sangat mudah bagi pengusaha Jepang untuk berinvestasi di Indonesia. Dengan perbaikan lebih lanjut dalam iklim investasi di Indonesia, saya percaya bahwa investasi Jepang di Indonesia akan meningkat dan dalam hal ini saya percaya EPA akan memainkan peran yang sangat penting," kata PM Hatoyama.

"Terkait dengan perubahan iklim, Presiden SBY mengkomunikasikan kepada saya suatu target yang sangat berani, tapi menurut saya bisa dicapai, penurunan sebesar 26 persen dari karbondioksida. Saya sangat menghargai target ini dan kita harus memastikan COP 15 tidak akan gagal. Jadi kami berdua akan saling bekerjasama untuk menjamin keberhasilan pertemuan Copenhagen," kata Hatoyama. (osa)