Berita Utama
Senin, 14 Desember 2009, 18:02:50 WIB
Konferensi Kopenhagen Harus Membuahkan Hasil yang Konkret
Presiden SBY dan Presiden EU Jose Manuel Durao Barroso dalam keterangan pers bersama di Gedung Komisi Eropa, Berlaymont, Brussel, Senin (14/12) pagi. (foto:abror/presidensby.info)
Indonesia dan UE sepakat membangun komitmen yang lebih kuat untuk mendorong agar pertemuan COP15 UNFCCC memberikan hasil yang konkret. Presiden SBY, dalam pertemuan tersebut menguraikan arah kebijakan pemerintah untuk mendorong komitmen internasional berkaitan terhadap dampak perubahan iklim global di negara maju maupun berkembang. "Saya juga berharap Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen dapat membuahkan kesepakatan yang utuh dan mengikat secara hukum pada tahun 2010," ujar Presiden SBY.
Selain itu, SBY dan Barroso membahas isu yang berkaitan dengan penerapan Traktat Lisabon, yang berimplikasi pada perubahan di tubuh kelembagaan Uni Eropa dan dampaknya terhadap negara ketiga. Dengan adanya perubahan tersebut, UE akan memberikan perhatian yang lebih besar kepada isu-isu integrasi domestik sekaligus perluasan kerjasama dengan negara-negara non Eropa. Dalam hal ini, Presiden SBY menyambut baik peran UE dalam konstelasi pemulihan ekonomi internasional pasca krisis sesuai hasil-hasil pertemuan G-20 lalu.
Kedua pemimpin juga membahas mengenai tindak lanjut penandatanganan Parthnership and Cooperation Agreement antara Indonesia dan Uni Eropa pada awal November 2009 lalu di Jakarta. Beberapa agenda kerja sama yang memperoleh perhatian besar dalam pembahasan itu adalah di bidang perdagangan dan investasi, pendidikan, lingkungan hidup, dan dialog masalah HAM. "Indonesia menyambut baik dibukanya dialog antara Indonesia dan EU. Saya juga berharap dialog tersebut dapat menjadi dialog yang konstruktif dan menghasilkan kerjasama yang konkret antara Indonesia dan EU di bidang HAM," SBY menjelaskan.
Ketika bertemu Barroso, Presiden SBY didampingi oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti M. Hatta, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Duta Besar RI untuk Belgia Nadjib Riphat Kesoema. (mit/har)



