Berita Utama

Presiden Beri Kuliah Umum di Berlin

Perlu Kerjasama Internasional untuk Melindungi Hutan

Presiden SBY menyampaikan kuliah umum di depan berbagai kalangan Jerman, di Hotel Adlon Kempinski, Berlin, Selasa (15/12) malam waktu Jerman. SBY juga memperkenalkan para gubernur yang menyertai kunjungan. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan kuliah umum di depan berbagai kalangan Jerman, di Hotel Adlon Kempinski, Berlin, Selasa (15/12) malam waktu Jerman. SBY juga memperkenalkan para gubernur yang menyertai kunjungan. (foto: haryanto/presidensby.info)
Berlin: Melindungi hutan merupakan program prioritas pemerintah Indonesia. Bersama negara-negara pemilik hutan hujan tropis lainnya, Indonesia bertekad menjaga paru-paru dunia dan mewujudkan pembangunan yang rendah karbon. Tapi tentu saja ini membutuhkan kerjasama internasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini pada Kuliah Umum (Public Lecture) di depan pejabat pemerintah Jerman, akademisi, pebisnis, dan berbagai kalangan lain, di Hotel Adlon Kempinski, Berlin, Selasa (15/12) sore waktu setempat atau Rabu (16/12) dini hari di Indonesia.

"Satu hal yang penting, negara-negara pemilik hutan hujan tropis membutuhkan insentif untuk melakukan semua ini. Bukan hanya untuk penghutanan kembali, tapi juga karena telah mencegah penggundulan, dan tidak memangkas hutan mereka," kata Presiden SBY.

Indonesia, lanjut SBY, berhasil mencegah pembalakan liar melalui pemberlakukan peraturan yang ketat. Indonesia juga mengembangkan rencana jangka pendek, menengah, dan panjang dengan tujuan menata, melindungi, dan memperluas hutannya. Mulai tahun depan, setiap tahun Indonesia akan menanami area seluas 500 ribu hektar. "Ini akan mengurangi emisi sampai 26 persen pada 2020 atau bahkan menjadi 41 persen dengan kerjasama inernasional," Presiden menambahkan.

Tahun ini, SBY telah mengkampanyekan gerakan nasional `Satu Orang Satu Pohon` dengan menanam 200 hingga 300 juta pohon setiap tahun. Secara pribadi, SBY sendiri memimpin kampanye dengan menyebar 400 ribu bibit Trembesi --dikenal sebagai `pohon hujan`-- kepada setiap provinsi. "Pohon-pohon ini akan menyerap 28 ton karbon dioksida setiap tahun," SBY menjelaskan.

Berkat kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah, Indonesia telah berhasil mengurangi kebakaran hutan di kawasan Kalimantan dan Sumatera. Indonesia juga menjalin kerjasama dengan negara-negara pemilik hutan hujan tropis lainnya. Misalnya, dengan Malaysia dan Brunei Darussalam melalui program konservasi hutan seluas 220 ribu km2. Indonesia juga mempelopori pembentukan Forestry 11, forum 11 negara pemilik hutan hujan tropis.

Negara-negara ini membangun paradigma, bahwa membiarkan pohon tumbuh lebih menguntungkan daripada membabatnya, melalui apa yang disebut dengan REDD plus scheme karena pasar karbon masih belum bisa diharapkan sampai beberapa tahun ke depan.

Kuliah umum ini dihadiri lebih dari 200 peserta. Presiden SBY sendiri berkesempatan memperkenalkan para Gubernur yang menyertai kunjungan ke Eropa ini. Mereka diperkenalkan sebagai pemimpin daerah yang memiliki kontribusi terhadap upaya perlindungan hutan di Indonesia.

Hadir pada acara ini, antara lain, Menlu Marty Natalegawa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menhan Purnomo Yusgianyoro, Mendag Mari Pangestu, Menteri ESDM Darwin Z. Saleh, dan kedua Jubir Presiden, Dino Patti Djalal serta Julian A. Pasha. (win/har)