Berita Utama
Kamis, 17 Desember 2009, 21:24:51 WIB
Pidato SBY Dapat Reaksi Positif, Proposal Indonesia Dinilai Konstruktif
Kopenhagen: National Statement yang dibacakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada COP-15 di Plenary Hall, Bella Center, pagi tadi, banyak menimbulkan reaksi positif, karena Presiden SBY menawarkan posisi yang berbeda. Demikian dikatakan Juru Bicara Presiden, Dino Patti Djalal, dalam keterangan persnya di Hotel Crowne Plaza Towers, Kamis (17/12) sore waktu setempat atau malam WIB.“Presiden SBY tidak ragu tampil beda dan dengan keyakinan terhadap posisi yang diambil Indonesia sebagai negara yang konstruktif. Usai menyamaikan pidato itu, Presiden SBY aktif mengadakan lobi. Presiden SBY sempat bertemu Sekjen PBB Ban Ki-moon dan PM Australia Kevin Rudd. Presiden SBY tadi juga mengirimkan Menlu Marty Natalegawa untuk bertemu dengan Sudan, Ketua Kelompok 77,” Dino menjelaskan.
Lobi dilakukan agar menciptakan jembatan-jembatan yang bisa menjadi dasar dari suatu konsensus. Perkembangan yang terjadi di ruang sidang, lanjut Dino, menunjukkan ada perbedaan yang cukup tajam di antara negara-negara tertentu. “Pada saat ini tantangannya berat sekali. Tadi ketika bertemu dengan Sekjen PBB, beliau mengatakan bahwa miss-trust itu tinggi dan jurang perbedaan terlalu besar. Prosesnya juga sekarang sedikit keteter, jadi proses untuk ke arah suatu kesepakatan, besok (Jumat, 18/12) itu sekarang banyak yang macet,” Dino menerangkan.
“Pada saat saya berbicara sekarang ini, situasi di ruang sidang tidak begitu bagus. Sekarang ini yang akan terjadi adalah akan banyak lobi-lobi, banyak upaya untuk mencari kompromi, menciptakan kompromi baru berdasarkan teks atau usulan yang ada. Mungkin ini akan berlangsung terus hingga nanti malam atau besok pagi. Sekarang kita berada pada titik yang tidak pasti dan Presiden SBY berupaya yang terbaik untuk mencoba memainkan peranan untuk mendorong suatu konsensus,” Dino menambahkan.
Sekjen PBB Ban Ki-moon juga sangat menghargai pidato Presiden SBY. “Pandangan Presiden SBY dan Sekjen Ban Ki-moon sama, harus ada konsensus, miss-trust harus dikikis dan harus dimulai suatu proses baru yang intinya menghasilkan suatu kompromi. Jadi intinya adalah bagaimana mengupayakan segala cara agar ada jembatan baru untuk mengatasi miss-trust dan jurang antara negara maju dan negara berkembang,” kata Dino. (osa)



