Berita Utama

Presiden Prihatin Munculnya Perilaku yang Didasarkan Fitnah

Presiden SBY menyampaikan sambutan pada  Perayaan Natal Bersama umat Kristiani tingkat nasional di Plenary Hall, Jakarta Convention Centre, Minggu (27/12) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan sambutan pada Perayaan Natal Bersama umat Kristiani tingkat nasional di Plenary Hall, Jakarta Convention Centre, Minggu (27/12) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono prihatinan atas sejumlah fenomena sosial dan politik yang muncul akhir-akhir ini, yang dinilai tidak sehat dan dapat merusak sendi-sendi kehidupan. "Munculnya sejumlah tabiat dan perilaku baru yang didasarkan pada fitnah, kebohongan dan fiksi daripada fakta dan kebenaran," kata SBY pada Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani 2009 di JCC, Minggu (27/12) malam.

Di sejumlah tempat di tanah air juga muncul perilaku kasar dan bernuansa kekerasan yang dilakukan sejumlah elemen masyarakat dalam mengekspresikan hak dan kebebasannya. "Apa yang saya prihatinkan adalah semua tabiat itu telah melampaui batas kepatutan yang dapat diterima oleh dasar-dasar moral, etika dan budi pekerti yang semuanya menjadi ajaran utama semua agama. Jika hal demikian kita biarkan, tentu akan mengganggu dan melemahkan pilar-pilar penting dari tata kehidupan masyarakat yang baik (good society) dan peradaban bangsa yang unggul dan mulia (great civilization)," terang SBY.

"Sebaliknya, kehidupan sosial dan politik kita akan digantikan nilai dan tabiat buruk yang penuh prasangka, kebencian dan permusuhan. Lebih lanjut, jika hal-hal negatif begini terus berkembang, kehidupan masyarakat kita akan menjadi tidak tentram. Kehidupan bangsa akan penuh dengan konflik dan kegaduhan, dan demokrasi serta politik pun akan tercoreng karena akan tercabut dari etika dan nilai-nilai luhur bangsa kita," ujar SBY.

Presiden mengajak seluruh bangsa bersama-sama menghentikan tabiat tidak terpuji ini dengan menerapkan tata krama yang mencerminkan kehidupan bermasyarakat yang baik dan peradaban unggul yang sekaligus selaras dengan anjuran dan ajaran mulia semua agama. "Mari kita jauhkan sikap dan perilaku yang bertentangan dengan ajaran universal agama-agama yang pada hakekatnya menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kebertanggung-jawaban. Bersama-sama mari kita serukan penolakan terhadap fitnah, kebohongan dan perilaku kasar yang melampaui kepatutannya," ajak SBY.

Dalam kaitan ini semua, selaku Kepala Negara, Presiden SBY mendorong agar para pemuka agama senantiasa mengambil peran yang konstruktif. Para pemuka agama juga sungguh diharapkan tetap dekat dengan umat seraya terus membimbing dan mengarahkan agar nilai-nilai luhur agama dan moral tetap dipedomani dan dijalankan. "Pemuka agama adalah sosok yang tepat untuk memberikan tauladan kemuliaan dan keagungan dalam berpikir, bertutur, bersikap dan bertindak," lanjutnya.

Presiden juga mengedepankan hal penting dan mendasar, yaitu tentang etika, akhlak, dan budi pekerti sebagai umat manusia, tentang karakter dan moral sebagai masyarakat, serta tentang peradaban sebagai bangsa. "Di berbagai kesempatan dan forum telah sering saya sampaikan pentingnya kita membangun tata kehidupan masyarakat yang baik (good society) dan peradaban bangsa yang unggul dan mulia (great civilization)," kata Presiden SBY. (osa)