Berita Utama

Upacara Kenegaraan untuk Gus Dur

SBY: Selamat Jalan Bapak Pluralisme

Presiden SBY melakukan pengurukan tanah pada makam Gus Dur, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, Kamis (31/12) siang. (foto: rusman/presidensby.info)
Presiden SBY melakukan pengurukan tanah pada makam Gus Dur, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, Kamis (31/12) siang. (foto: rusman/presidensby.info)
Jombang: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertindak selaku Inspektur Upacara pada upacara kenegaraan pemakaman mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (31/12) siang. Gus Dur dimakamkan di samping makam kakeknya, KH Hasyim Asy'ari.

Dalam pidatonya, Presiden SBY mengatakan bahwa dengan kepergian Gus Dur, bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang putra terbaik bangsa. Seorang guru dan bapak bangsa dan seorang negarawan terhormat. "Kita hadir di sini, di pemakaman keluarga di Jombang Jawa Timur ini untuk memberikan penghormatan terakhir melalui upacara kenegaraan," kata SBY.

Upacara ini diselengarakan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dari negara dan dari pemerintah atas dasar dharma bakti serta pengabdian Almarhum pada negara dan bangsa. "Kita sama-sama mengetahui, almarhum yang dilahirkan di kota Jombang 69 tahun lalu, sepanjang hayat beliau, mengabdikan diri untuk masyarakat, bangsa dan negara. Sejarah mencatat, bahwa sepanjang hidup beliau, almarhum telah memberikan pengabdian terbaik untuk kemajuan agama di Indonesia utamanya melalui pengabdian tanpa pamrih kepada organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU, yang didirikan oleh kakek beliau KY Hasyim Asyari," SBY menjelaskan.

"Almarhum juga dikenal sebaga salah satu pemimpin dan pemikir Islam yang sangat dihormati di Indonesia maupun di dunia. Beliau dikenal secara luas sebagai tokoh yang sangat berpengaruh karena senantiasa mendorong perkembangan Islam di lingkungan warga Nahdiyin pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Kepercayaan pada agama yang beliau peluk yaitu Islam sebagai sumber universal kemanusiaan dan peradaban mulia sungguh memberikan inspirasi bagi kita semua," ujar SBY.

Keyakinan Gus Dur kepada Islam sebaga sumber keselamatan perdamaian keadilan dan toleransi, menginspirasi banyak kalangan dan pemimpin agama di negeri ini maupun di dunia internasional. "Almarhum juga tercatat sebagai salah satu peletak dasar perkembangan awal dalam pemikiran dan praktek demokrasi di Indonesia pada awal 1990-an bersama-sama dengan tokoh lainnya," SBY menerangkan.

"Beliau menjadi Presiden pertama sejak pemilu demokratis diselenggarakan pada tahun 1999. Beliau pulalah yang menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai pilar dan ajaran hidup yag menguatkan penghormatan kita kepada kemajemukan di negeri ini. Sebagai pejuang reformasi, almarhum senantiasa mengingatkan kita kepada gagasan-gagasan universal mengenai pentingnya kita sebaga bangsa yang beragam ini menghormati dan menghargai kemajemukan melalui ucapan, sikap dan perbuatan beliau," seru SBY.

Gus Dur menyadarkan sekaligus melembagakan penghormatan kita kepada kemajemukan ide dan identitas yang bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan, etnik dan kedaerahan. "Disadari atau tidak oleh kita, sesungguhnya beliau adalah bapak pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia," SBY menegaskan.

Selama masa pemerintahannya sepanjang 1999 sampai 2001, Gus Dur menetapkan berbagai kebijakan yang tidak saja berkehendak secara tetap untuk mengakhiri diskriminasi namun juga untuk menegaskan bahwa negara memuliakan berbagai bentuk kemajemukan yang terdapat di negeri in. "Jasa-jasa beliau terhadap perkembangan masyarakat dan bangsa yang dilandaskan pada demokrasi dan semangat persatuan atas dasar kemajemukan, sungguh sangat berarti dalam sejarah RI," SBY mengungkapkan.

"Dengan jujur dan hati yang bersih kata patut mengakui begitu banyak jasa yang telah almarhum berikan pada bangsa dan negara. Namun kita juga menyadari, bahwa sebagai manusia biasa, dan juga layaknya seorang pemimpin, Almarhum tentulah tidak luput dari kekhilafan dan kekurangan. tidak ada manusia, umat hamba Allah yang sempurna di dunia ini. Untuk itu marilah kita sebagai bangsa yang berjiwa besar dengan tulus mengucapkan terimakasih serta memberikan penghormatan, penghrgaan yang tinggi atas dharmabakti dan pengabdian Almarhum kepada bangsa dan negara," kata SBY.

Presiden juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan almarhum semoga ditempatkan di sisi Tuhan, Allah SWT sesuai dengan perjuangan, pengorbanan, dan amal ibadah beliau. Kepada keluarga almarhum yang ditinggalkan, kita mendoakan semoga Allah SWT senantiasa memberikan ketabahan dan kesabaran serta dapat menerima kepergian almarhum dengan ikhlas dan tawakal," kata SBY.

"Marilah kita lepas kepergian almarhum menghadap sang khalik dengan tenang. Marilah pula kata panjatkan doa semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau dan mengampuni segala dosa-dosa almarhum. Selamat jalan bapak pluralisme kita, semoga berada dengan tenang di sisi Allah SWT," ungkap SBY mengakhiri pidatonya. (osa)