Berita Utama

Presiden:

Salah Satu Opsi Atasi Kemacetan Jakarta, Pindahkan Pusat Pemerintahan

Jakarta: Kemacetan di Jakarta karena pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor, pertahun sekitar 10-15 persen, sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0.01 persen. Hal ini dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada cara buka puasa bersama pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) di Jakarta Convention Center, Jumat (3/9) petang. Sebagian besar undangan datang terlambat karena terjebak macet.

Untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, ujar SBY, opsinya ada tiga. "Pertama, kita benahi Jakarta dengan membangun segala prasarana dan sarana transportasi yang baru," Presiden SBy menjelaskan. Sedangkan opsi
kedua adalah memindahkan pusat pemerintahan dengan Ibukota, dan opsi ketiga membangun Ibukota yang baru.

Menurut Presiden, ketiga opsi ini memiliki plus dan minusmya. "Kalau kita putuskan sekarang, misalnya opsi kedua dan ketiga, membangun pusat pemerintahan yang baru, maka 10 tahun dari sekarang baru bisa dilakukan berdirinya pusat pemerintahan yang baru," SBY menambahkan.

"Karena ini fundamental, tentu diperlukan kesepakatan bersama pemerintah, parlemen, dan seluruh kalangan masyarakat, mana yang kita pilih," kata SBY.

Opsi kedua dan ketiga, menurut Presiden, peluang bisnisnya luar biasa. "Saya berandai-andai, kalau itu dibangun tentu 90 persen harus dibangun oleh pengusaha dalam negeri. Barangkali materiil yang kita impor juga tidak lebih dari 10 persen, misalnya, selebihnya dari dalam negeri. That will be big business opportunities," Presiden menegaskan.

SBY kemudian menekankan sekali lagi bahwa ini adalah masalah besar dan fundamental sehingga ia mengimbau agar semua berpikir luas dan berbuat besar. "Saya mendengar sebulan ini silang pendapat, pindah kemana kita? Kemananya nanti, yang penting konsepnya benar, idenya benar. Kita sepakat, baru kita lakukan solusi untuk Jakarta masa depan," ujar Presiden. (arc)