Berita Utama

Pemerintah Ingin Pastikan Stok Kebutuhan Pokok Tercukupi

Presiden SBY saat bersilaturahmi dengan pimpinan redaksi dan wartawan di Istana Negara, Rabu, (8/9) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY saat bersilaturahmi dengan pimpinan redaksi dan wartawan di Istana Negara, Rabu, (8/9) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Inflasi atau kenaikan harga itu bisa disebabkan oleh bermacam-macam sebab. Inflasi yang terjadi bisa karena dampak inflasi pada tingkat global, misalnya pergerakan atau kenaikan harga pangan dunia. Bisa oleh urusan dalam negeri, misalnya yang sifatnya musiman menghadapi hari Idul Fitri atau hari-hari besar yang lain. Bisa juga inflasi karena hubungan supply dengan demand.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan hal ini guna menyikapi persoalan stabilitas harga bahan pokok sekarang ini, pada acara buka puasa bersama sekaligus silaturahmi dengan pimpinan redaksi dan wartawan yang bertugas di lingkungan Istana, Rabu (8/9) malam di Istana Negara.

”Ketika demand meningkat, harga naik. Ketika demand berkurang, harga kembali turun, seperti pergerakan harga sebelum dan sesudah hari lebaran,” ujar SBY. Selain itu, faktor psikologis dan spekulasi bisa menaikkan harga-harga. ”Manakala ditengarai ada kerawanan terhadap supply pangan baik pada tingkat dunia, tingkat nasional maupun tingkat lokal,” SBY menambahkan.

Berkaitan dengan supply ada persoalan baru yaitu cuaca yang ekstrim. Itu bisa mengakibatkan gagalnya panen atas komoditas pertanian tertentu di banyak negara seperti di Pakistan, Bangladesh, India, Tiongkok, Nigeria ataupun Rusia. ”Untuk negeri kita, yang sedang dilaksanakan pemerintah adalah memastikan bahwa supply cukup, stok cukup, distribusinya tetap lancar,” Presiden menjelaskan. Menurut Kepala Negara, atensi pemerintah diutamakan kepada beras, minyak goreng utamanya minyak goreng curah, dan daging sapi serta gula.

Presiden menyampaikan bahwa sejak bulan Juni sampai dengan Agustus minggu kedua, mengalami kenaikan. ”Minggu ketiga Agustus, minggu keempat sampai sekarang turun sedikit, tapi belum cukup,” ujar SBY. Pemerintah ingin pastikan bahwa stok cukup. ”Dengan distribusi yang baik dan aksi yang baik, diharapkan harga bisa terkelola kembali. Daging sapi masih ada kecenderungan naik, tipis, dan ini menjadi prioritas kita juga,” tambahnya.

Kepala Negara juga berpesan kepada para pengusaha yang mengimpor daging sapi, jika diberikan kuota agar dipenuhi. ”Jangan diperlambat-perlambat sehingga bisa mempermainkan atau mengganggu harga daging sapi, kasihan rakyat,” Presiden menegaskan. ”Kebijakan yang sudah diberikan jangan di salahgunakan,” imbuhnya.

Terkait minyak goreng, pemerintah sedang mencari upaya minyak gorengnya ditempat kita, tapi tetap masuk ke pasar global. ”Kita ingin pastikan bahwa keperluan dalam negeri diharapkan cukup,” ujar SBY.

Sementara itu, untuk gula ada kebijakan khusus yang akan dilakukan, dengan harapan agar harganya bisa distabilkan dan dinormalkan kembali. Operasi pasar atas komoditas tertentu juga tetap dilakukan. ”Beras bersubsidi dulu bernama beras untuk rakyat miskin juga kita akan kita alirkan. Percepatan-percepatan, termasuk pasar murah yang dilakukan oleh BUMN maupun usaha swasta,” Presiden menjelaskan.

Presiden berharap apa yang dilakukan pemerintah betul-betul bisa menstabilkan harga. ”Kita pantau, kita atasi, kita lakukan aksi. Bukan bulanan tapi tiap minggu, khusus persoalan harga bahan pokok ini,” Kepala Negara menandaskan.

Selain membahas isu kenaikan harga, Presiden juga membahas tentang kemacetan di ibukota Jakarta, dimana untuk hal ini ditawarkan 3 opsi. Pertama, mempertahankan Jakarta sebagai pusat ibukota dan pusat pemerintahan. Kedua, dengan membentuk ibukota yang baru dengan pusat pemerintahan yang baru pula. Atau dengan kata lain, membuat sebuah "Jakarta" baru. Dan pilihan ketiga, memindahkan pusat pemerintahan, namun ibukota tetap di Jakarta. Untuk itu semua, Presiden menekankan ketiga opsi tersebut membutuhkan waktu yang lama. (yun)