Berita Utama
Senin, 5 Maret 2012, 12:58:39 WIB
SBY Prihatin Terhadap Prestasi PSSI
Presiden SBY saat menjawab wartawan mengenai prestasi PSSI, di Kantor Presiden, Senin (5/3) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
"Memang saya sangat prihatin dengan kejadian akhir-akhir ini, yang kembali ribut, ricuh, berselisih adalah para pengurus organisasi olahraga sendiri,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi pertanyaan wartawan mengenai kekalahan timnas asuhan pelatih Aji Santoso dalam PPD 2014 di Bahrain, Senin (5/3) siang.
Seharusnya, ujar Presiden, sekarang ini kita bisa bersyukur atas prestasi olahraga Indonesia yang menjuarai SEA Games XVI lalu. Rakyat senang karena ada tanda-tanda kebangkitan. "Tapi tiba-tiba kita menerima berita yang tidak baik: perselisihan, pertengkaran, bahkan sudah pada tingkat yang istilah saya melukai perasaan rakyat,” ujar SBY. “Rakyat ingin olahraga maju, semangat dan dukungan kepada tim sepakbola kita juga tinggi, tiba-tiba harus menerima keadaan seperti ini.,” SBY menambahkan.
Presiden SBY sendiri selama ini terus mengikuti dinamika sepakbola tanah air. Tadi malam contohnya, saat Timnas U-21 bertanding di Piala Sultan Hasanah Bolkiah, di Brunei Darussalam. "Betapa bangganya rakyat kita, betapa senangnya kita semua, betapa sebenarnya sepakbola kita memiliki potensi dan peluang yang besar untuk terus bangkit di forum Asia," ujar Presiden.
Saat Tim Merah Putih menghadapi Bahrain pada partai terakhir PPD 2014, Presiden tidak sempat menonton. Namun ketika mendengar kabar soal kekalahan telak 0-10 dari tuan rumah. SBY langsung mencari tahu kejadiannya. “Dikatakan, katanya timnya tidak siap, katanya ada perilaku wasit yang tidak baik. Silakan gunakan jalur FIFA kalau kita merasa keberatan," kata SBY.
Namun, SBY juga meminta PSSI melakukan introspeksi. SBY bahkan menerima sms yang meninta agar pemerintah turun tangan menyelesaikan kisruh sepakbola Indonesia. Tetapi SBY mengingatkan, ada statuta FIFA yang harus dituruti. “Di negara manapun, pemerintah tidak boleh begitu saja melakukan intervensi, kalau melakukan intervensi biasanya langsung dibekukan, dilarang. Kita tidak ingin sepakbola kita di-ban oleh FIFA,” Kepala Negara menjelaskan.
Bukan berarti pemerintah lepas tangan terhadap persoalan dan prestasi sepakbola Indonesia. Buktinya, tercatat beberapa kali Presiden merasa perlu masuk dalam urusan sepakbola. Pertama, saat mendorong dilakukannya kongres nasional sepakbola di Malang. Saat itu ada suara yang menginginkan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid turun, namun Presiden tidak setuju karena bertentangan dengan norma organisasi. Kongres hanya untuk membahas cara memajukan sepakbola Indonesia.
'Campur tangan' kedua dilakukan Presiden saat meminta harga tiket semifinal Piala AFF di Jakarta diturunkan agar banyak penggemar bisa menonton langsung. Yang ketiga, saat kisruh antarpengurus PSSI semakin mengeras dan terancan sanksi FIFA. Saat itu, Presiden memanggil Ketua KONI/KOI Pusat dan Menpora untuk melakukan pendekatan kepada FIFA. "Kalau sampai dilarang, dibekukan, di-ban, yang marah rakyat kita, yang sedih rakyat kita. Jadi tolong akukan pendekatan yang baik," SBY menuturkan. "Alhamdulilah, dengan cara-cara kita itu kita tidak jadi mendapatkan sanksi dari FIFA.,” SBY menambahkan.
Presiden sungguh berharap kepada kepengurusan PSSI untuk mendengarkan suara rakyat. “Jangan sibuk berantem, masa tidak ada habis-habisnya... Carikan solusinya dengan baik sehingga semangat yang begini tinggi dari rakyat kita tidak justru dihadiapi dengan konflik, pertentangan yang tidak kunjung habis,” Presiden SBY menegaskan.
Pemerintah tidak harus selalu ikut campur tangan. “Kita kasih kehormatan sekarang kepada para pengurus PSSI, utamakan kepentingan bangsa, kepentingan rakyat, kemudian kalau ada konflik, ada statuta dari FIFA,” Presiden mengingatkan. (dit)



