Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang mendapat hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006, Selasa (7/8) siang diterima Presiden SBY di Istana Negara. Dalam acara Presidential Lecturer yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan seluruh menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Yunus mengangkat tema We Can Put Poverty Into Museums yang dibawakan tanpa teks selama kurang lebih 45 menit.

Muhammad Yunus lahir di Chittagong, Banghladesg, kemudian melanjutkan ke jenjang Ph.D. di bidang ekonomi di Universitas Vanderbilt. Selesai kuliah, ia bekerja di Universitas Chittagong sebagai dosen di bidang ekonomi. Saat Bangladesh mengalami bencana kelaparan pada tahun 1974, Yunus terjun langsung memerangi kemiskinan dengan cara memberikan pinjaman berskala kecil kepada mereka yang membutuhkan, karena menurutnya pinjaman yang sangat kecil itu dapat membuat perubahan yang besar terhadap kemampuan kaum miskin untuk bertahan hidup.
Tahun 1976, Yunus mendirikan Grameen Bank yang memberi pinjaman pada kaum miskin di Bangladesh. Hingga saat ini Grameen Bank telah menyalurkan pinjaman lebih dari 3 miliar Dolar AS kepada sekitar 2,4 juta peminjam. Keberhasilan model Grameen ini telah mengantarkan Muhammad Yunus untuk memperoleh Anugerah Nobel Perdamaian tahun 2006 lalu. (nnf)



Keterangan foto. Presiden SBY dan Wapres JK bersama Muhammad Yunus di Istana Negara, Selasa (7/8) siang. (foto: anung/presidensby.info)