Kibar
Senin, 7 Juli 2008
Hari Primadi, Ketua IATMI Komisariat Kuala Lumpur

Hari Primadi (ketiga dari kanan) saat diterima Presiden SBY bersama teman-temannya yang mewakili generasi muda Indonesia di Kuala Lumpur, di Hotel Crowne Plaza, Malaysia, Senin (7/7) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
IATMI Komisariat Kuala Lumpur dalam kurun waktu lima tahun telah memiliki sekitar 200 anggota dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Berdasarkan data IATMI, yang bekerja di sektor geologi dan geophysicist ada 40 persen, lalu sektor petroleum engineer 21 persen, surface facility 12 persen, driling 11 persen, informasi dan teknologi 5 persen, nanagerial 4 persen, dan lain-lain 7 persen.
“Dari latar belakang keahlian tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan perusahaan tempat mereka bekerja, di Petronas ada 61 persen, Murphy Oil 8 persen, Shell 6 persen, RML 3 persen, dan lain-lain 16 persen. Ini potensi besar bagi Indonesia, yang memiliki putra-putri terbaik yang professional dan bekerja di Malaysia,” Hari Primadi bercerita.
Saat bertemu Presiden SBY, Hari Primadi, lulusan S2 Institut Teknologi Bandung, menyerahkan rekomendasi hasil seminar sehari yang diadakan pada 5 Juli 2008 di KBRI Malaysia. Seminar bertemakan “Peran dan Sumbangsih Generasi Muda dalam Membangun Kembali NKRI" itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional serta 10 tahun Reformasi. Pembicara seminar, antara lain, Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Soemantri, Menlu Hassan Wirajuda, dan anggota DPR RI Komisi X Anwar Arifin.
Salah satu rekomendasi yang mendapat apresiasi besar dari Presiden SBY adalah gagasan IATMI membentuk jaringan cendekiawan dan profesional yang akan mewujudkan jaringan sirkulasi profesional Indonesia di luar negeri atau Brain Circulation Network. ” India dan China sudah melakukan ini. Saya pernah ke sana, mereka telah menguasai. Nah, bisakah Indonesia seperti itu,” kata Hari yang senang Speleologi dan pada tahun 1984 bersama timnya pernah menemukan goa terpanjang di Indonesia.
Selain kontribusi keilmuan yang dimiliki, IATMI tambah Hari, pada saat terjadi tsunami di Aceh juga turut membantu korban bencana alam itu. “Kami mengangkat anak asuh, kami juga menjajaki korban gempa di Yogya. Dananya dari bantuan sukarelawan anggota IATMI,” Hari menjelaskan.
Hari dan kawan-kawan menyatakan siap berbakti bagi Indonesia apabila dipanggil oleh negara untuk berbakti, meskipun dengan fasilitas yang tidak sama dengan apa yang diterima saat ini. ”Kami pernah diminta pihak Pertamina untuk kembali bekerja di Indonesia. Kami siap. Saat itu ada sekitar 50 orang d-iinterview. Planning kami tidak macam-macam, saya minta dikontrak 1 tahun saja. Saya akan mengajar, katakanlah, 10 orang pemuda saja. Tapi pihak Pertamina membatalkan tanpa alasan yang jelas,” ujar Hari, yang dalam pembicaraan dengan website ini didampingi rekannya yang juga anggota IATMI, Paulus Kristianto, Sales Manager South East Asia.
Hari Primadi telah bekerja di beberapa perusahaan perminyakan, antara lain, tahun 1989 di Caltex Pacific Indonesia. Tahun 2003 ia bekerja di Roxar-South East Asia Pacific sebagai konsultan perminakan, lalu tahun 2004 bekerja di Petronas Carigali Kuala Lumpur sebagai staf Geomodelling dan tahun 2008 ini sebagai Independent Consultant Asia Pacific.
Penggemar makanan sehat dan berfalsafah berpikir sehat ini telah dikarunia dua orang anak dari seorang istri. Sejak muda Hari punya hobi mendaki gunung, fotografi, dan berorganisasi sejak menempuh S1 di UPN Veteran Yogyakarta. (win)



