Kibar
Rabu, 8 Oktober 2008
Laskar Pelangi

Sampul depan buku "Laskar Pelang" karya Andrea Hirata. (foto: istimewa)
Dengan berat hati akhirnya Pak Harfan, kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong mengumumkan untuk menutup sekolah tersebut. Belum sempat menyelesaikan pidatonya, dengan mengejutkan muncullah Harun, seorang anak dengan keterbelakangan mental yang datang sebagai murid kesepuluh. Dari situlah kemudian cerita berlanjut. Laskar Pelangi sendiri adalah sebutan yang diberikan Ibu Muslimah kepada sepuluh orang muridnya tersebut.
Film yang diproduseri Mira Lesmana dan digarap sutradara Riri Riza ini diangkat dari novel pertama garapan Andrea Hirata. Mengisahkan tentang lika-liku kehidupan guru dan sepuluh anak Belitong yang bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong. Kesepuluh anak itu adalah Ikal, Lintang, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun, dan satu-satunya perempuan di Laskar Pelangi, Sahara.
Hampir 100 persen dari pengambilan gambar dan syuting film Laskar Pelangi ini dilakukan di daerah aslinya, yaitu Belitung. Uniknya lagi, semua pemain anak-anak dalam film itu adalah anak-anak asli Belitung yang beradu peran dengan aktor-aktor kawakan seperti Cut Mini, Ikranegara, dan Slamet Raharjo. Film ini sudah mulai beredar di bioskop sejak liburan Lebaran 2008 lalu. Sejak dirilis pertama kali, film Laskar Pelangi ini sudah menyedot ribuan penonton dari berbagai kalangan.
Rabu (8/10) malam nanti, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani, didampingi para menteri, ikut menyaksikan film Laskar Pelangi di Auditorium 1, Blitzmegaplex, Grand Indonesia. Presiden SBY dan Ibu Ani memang sangat mendukung majunya perfilman Indonesia sebagai salah satu sumber ekonomi kreatif. Bayangkan, untuk satu produksi film saja bisa menyerap hingga ratusan tenaga kerja. Artinya semakin berkembang ekonomi kreatif di Indonesia, semakin sedikit pula tingkat pengangguran di Indonesia.
Bukan sekali ini SBY menyaksikan fiml karya sineas Indonesia. SBY amat menghargai karya-karya anak negeri sendiri. Saat membuka Kongres XIII Parfi, 18 Mei 2006 silam, SBY dengan tegas menyatakan, ”Saya ingin menjadi bagian dari kebangkitan perfilman nasional ke depan,” katanya. ”Begitu kebangkitan ekonomi terjadi, tahun demi tahun, daya beli rakyat kita meningkat. Kalau pasarnya ada, filmnya enak ditonton, industrinya bekerja, kebijakan pemerintah klop, pembelinya ada, hidup gedung-gedung bioskop kita, bukan hanya kelas 1 tapi juga kelas 2,” Presiden SBY menambahkan. (osa)



