Arsip Kibar

« Februari 2010 »
M S S R K J S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28      

Kibar

Pempek Palembang

Presiden SBY mengamati cara pembuatan pempek di Kedai Pempek Pak Raden, Selasa (9/2). (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY mengamati cara pembuatan pempek di Kedai Pempek Pak Raden, Selasa (9/2). (foto: abror/presidensby.info)
Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu sekitar abad ke-16. Saat itu Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek diyakini berasal dari kata "apek", sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.

Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan, tepian Sungai Musi, prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi namun belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik. Tangkapan ikan tersebut hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain, yaitu dengan mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.

Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu velocipede atau sepeda baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Walaupun begitu, sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti baso ikan, kekian ataupun ngohyang.

Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah tapi dengan rasa yang tetap gurih. Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti tenggiri, kakap merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah.

Penyajian pempek ditemani saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko dalam bahasa Palembang. Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi, dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera, maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Salah satu pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.

Jenis pempek yang terkenal adalah Pempek Kapal Selam, yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat atau terkenal dengan nama ada'an, pempek kulit ikan, pempek pistel yang berisi irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui, pempek telur kecil, dan pempek keriting.

Pempek bisa ditemukan dengan gampang di seantero Kota Palembang. Selasa (9/2) siang, setelah menghadiri acara Peringatan ke-64 Hari Pers Nasional dan memberikan kuliah singkat kepada sejumlah siswa Sekolah Jurnalistik Indonesia di Hotel Aryaduta Palembang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu tempat penjualan pempek yang cukup terkenal di Palembang, Pak Raden. Walaupun hanya kunjungan singkat, sekitar 15 menit, namun kelihatan Presiden SBY sangat menikmati sajian pempek tersebut.

Rupanya bukan hanya Presiden SBY saja yang antusias untuk mencicipi makanan khas Palembang ini, masyarakat sekitar juga nampak antusias berkerumun dan ingin menyaksikan kedatangan Presiden SBY yang datang ke sebuah kedai sederhana di salah satu sudut kota Palembang. Merasa jarang menemui momen langka seperti ini, warga masyarakat pun berebutan ingin bersalaman dengan Presiden SBY. (yun)