Arsip Kibar

« Februari 2010 »
M S S R K J S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28      

Kibar

Max Boon

Presiden SBY menerima Max Boon di Kantor Presiden, Kamis (18/2) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY menerima Max Boon di Kantor Presiden, Kamis (18/2) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Masih lekat dalam ingatan kita tragedi pemboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang lebih populer dengan sebutan Mega Bom Kuningan 2009. Tragedi itu terjadi pada pukul 07.47 dan 07.57 pada 17 Juli 2009, sembilan hari sesudah Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang berlangsung secara aman dan tertib. Bom itu juga terjadi dua hari sebelum rencana kedatangan tim sepak bola Inggris, Manchester United ke Indonesia yang akan melakukan pertandingan dengan tim Indonesian All Star. Mereka rencananya akan menginap di Ritz carlton. Peristiwa bom bunuh diri tersebut menewaskan 9 orang korban dan melukai lebih dari 50 orang lainnya, baik warga Indonesia maupun warga asing.

Korban-korban tersebut langsung dilarikan ke beberapa Rumah Sakit yang ada di Jakarta. Salah satu korban yang ikut dilarikan ke Rumah Sakit bernama Max Boon, pria berkewarganegaraan Belanda. Max Boon saat itu dilarikan ke Rumah Sakit MMC Kuningan untuk menerima perawatan pertama dan kemudian mendapat rujukan untuk melanjutkan perawatan dan terapi-terapi selanjutnya di Rumah Sakit di Singapura. Max harus kehilangan kedua kakinya hingga batas lutut karena harus diamputasi akibat terkena ledakan tersebut.

Pria bernama lengkap Maximiliaan Petrus Paulus Boon ini sudah berada di Indonesia sejak tahun 2004. Namun setelah tragedi Marriot II, ia melakukan perawatan intensif di Singapura, kemudian kembali ke Belanda untuk melanjutkan perawatan. Pria kelahiran 20 November 1975 ini merupakan seorang senior Technical Advisor/Business Development Director di Castle Asia: Political & Economical Consultants Jakarta, Indonesia. Selama di Indonesia, sebelum berkarir di Castle Asia, Max pernah bergabung di PA Asia Ltd. Public Affairs and Strategic Communication Consultants Jakarta di tahun 2004 hingga 2006, Oxford Business Group: Consulting, Research, and Publishing firm Jakarta pada 2006 hingga 2007 dan Royal Haskoning: Engineering Consultants Jakarta/Aceh Indonesia pada tahun 2007 hingga 2008.

Selama menjalani perawatan di Singapura, Max melakukan komunikasi dengan Presiden SBY melalui surat. Duta Besar Belanda di Singapura menjadi perantara proses surat menyurat tersebut. Surat itu menyatakan kecintaan Max akan Indonesia dan keinginannya untuk tetap tinggal di Indonesia. Presiden SBY sangat terharu membaca surat Max dan langsung membalasnya secara pribadi pada hari yang sama dan menyatakan apresiasinya terhadap Max.

Setelah hampir setahun berlalu, Kamis (18/2), Presiden menerima kunjungan Max Boon di kantor Kepresidenan Jakarta. Max datang didampingi atasannya James Castle. Presiden SBY merasa sangat gembira dapat bertemu langsung dengan Max. ” Max barangkali kehilangan kaki, tapi tidak kehilangan hati, semangat dan pikiran. Saya menyambut baik dan marilah terus kita jalin komunikasi ini,” Presiden menegaskan.

Dalam pertemuan itu, Max menyampaikan terima kasih dan menyatakan keinginannya untuk tetap tinggal di Indonesia setelah proses rehabilitasinya selesai. ”Rencana saya kedepannya seperti dulu, semangat saya terinspirasikan oleh semangat rakyat Indonesia dan oleh karena itu saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri dan tinggal di Belanda. Saya pasti akan kembali ke Indonesia lagi,” ujar Max.

Setelah kunjungan itu, Max didampingi James Castle beranjak keluar kantor Kepresidenan menuju tempat parkir untuk meninggalkan Istana Kepresidenan. Menurut Jubir Kepresidenan, Dino Patti Djalal yang juga turut mendampingi mereka, setibanya di tempat parkir Max disambut oleh seorang wanita yang ternyata adalah tunangannya. Wanita berkewarganegaraan Indonesia ini mengatakan dia akan terus mendampingi dan merawat Max sampai sembuh kembali dan meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

Sungguh sebuah kisah yang sangat romantis dan mengagumkan. Walaupun telah kehilangan kedua kaki, masih ada seorang wanita Indonesia setia yang tetap menunggunya. (yun)