Ada PON di daerah. Di Kaltim. Lebih dari 30 ribu atlet, wasit, pembina, pendukung, dan masyarakat setempat memadati Stadion Palaran Samarinda. Boleh dikata seluruh penduduk Samarinda, Ibukota Provinsi Kaltim, terlibat dalam persiapan pembukaan dan penyelenggaraan berbagai pertandingan. Ketika Presiden SBY dengan resmi membuka PON XVII ini, gemuruh membahana dari seantero stadion, bahkan di segenap pelosok Kaltim, di mana siaran langsung TVRI bisa ditonton.
Masyarakat Kaltim pantas berbangga hati menjadi penyelenggara PON. Karena selama Orde Baru, PON hanya bisa diselenggarakan di Jakarta. Seakan hanya orang Jakarta saja yang bisa menyelenggarakan PON. Seakan hanya orang Jakarta saja yang bisa menikmati PON. Akibatnya, hanya Jakarta saja yang bisa memiliki infrastruktur olahraga yang baik.
Tahukah anda bahwa kalau tak ada PON IV di Makassar tahun 1957, tak ada yang namanya Stadion Mattoanging, yang menjadi kebanggaan orang Makassar hingga saat ini. Karena itulah stadion satu-satunya di Makassar, bahkan di Sulawesi Selatan, yang memenuhi standar internasional. Walau sekarang sudah tua.
Baru setelah era otonomi daerah, kita kembali mengadakan PON di daerah. Yang pertama adalah di Jatim tahun 2000, lalu Sumsel empat tahun lalu. Dan sekarang di Kaltim. Selanjutnya di Pekanbaru, Riau. Coba lihat, sekarang Palembang punya Stadion Jaka Baring, yang sudah sempat digunakan dalam pertandingan babak final Piala Asia, bersama Gelora Bung Karno Jakarta.
Tapi ada satu hal yang perlu kita cermati, yang kalau tidak segera disikapi dengan arif, akan menjadi penghalang bagi daerah-daerah lain untuk juga menjadi tuan rumah PON. Yaitu membengkaknya jumlah cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan. Di PON XVII ini, jumlah cabor sudah mencapai 43. Bandingkan dengan di SEA Games yang akan datang di Laos yang hanya akan mempertandingkan 25 cabor. Bandingkan pula dengan Olimpiade di Beijing nanti yang jumlah cabornya hanya 28.
Citius, altius, fortius. Lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Itu motto olimpiade. Itulah pencapaian tertinggi olahraga dunia. Itu pulalah yang menjadi impian setiap atlit olahraga. Itu juga yang menjadi kebanggaan rakyat negara manapun, ketika lagu kebangsaannya dinyanyikan dan bendera nasionalnya dikibarkan, tanda pencapaian tertinggi, medali emas, olahraga dunia.
Mungkin kita terlalu semangat dalam menggelorakan olahraga, sehingga begitu banyak cabor bisa dipertandingkan dalam PON. Walau cabor-cabor itu tak ada hubungannya dengan cabor yang dipertandingkan di kejuaraan internasional, seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. Coba lihat di PON Kaltim ini, ada cabor Drum Band, bahkan ada pula cabor Dansa.
Akibatnya, kita kehilangan fokus dalam pembinaan cabor. Karena begitu banyak cabor yang dipertandingkan di PON. Dan semua menyediakan medali. Sementara itu, Olimpiade Beijing sudah di depan mata, tapi tak jelas di cabor mana nanti kita bisa mendulang emas, agar Sang Merah Putih bisa berkibar, dan Indonesia Raya bisa berkumandang.
Akibatnya juga, beban bagi daerah yang menjadi tuan rumah PON menjadi lebih berat. Menyiapkan berbagai venues dan menyelenggarakan setiap cabor membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sejauh ini yang menjadi tuan rumah adalah propinsi-propinsi kaya. Tapi bagaimana dengan propinsi lain? Padahal, penyebaran pembangunan infrastruktur olahraga perlu dilakukan di semua daerah.
Sudah waktunya KONI memikirkan ulang kriteria cabor yang dipertandingkan di PON. Tidak semua harus masuk ke PON. Toh, ada kejuaraan nasional masing-masing yang bisa digelar, tanpa harus ‘di-PON-kan.’ Lagipula, tidak semua yang berkeringat otomatis harus dipertandingkan di PON.
Karena, kalau ‘berkeringat’ menjadi kriteria utama, saya pun ingin mengusulkan ‘Lomba Makan Coto Makassar’ sebagai cabor di PON. Yang ini sudah pasti berkeringat, seru, dan semua penonton pasti senang. Saya kira, Presiden SBY dan Wapres JK tidak akan keberatan.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 7 Juli 2008
Semarak PON di Kaltim
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasioal



