Bagi yang senang bepergian dan melihat tempat-tempat baru seperti saya, mengikuti perjalan Presiden SBY adalah kesempatan yang sangat berharga untuk mengenal dan mencintai negeri pusaka ini. Betapa tidak, hampir semua pelosok negeri pernah dikunjungi. Mulai dari Bireun di Aceh, Danau Toba di Sumut, Pantai Pangandaran di Jabar, Pesantren Tremas di Pacitan Jatim, hamparan bunga di Tomohon Sulut, Pos Perbatasan Kalbar, Pulau Buru di Maluku, sampai Merauke Papua. Dan masih banyak lagi.

Memang sudah menjadi tekad Presiden SBY untuk bisa mengunjungi sebanyak-banyaknya daerah, karena wilayah kerja Presiden RI adalah seluruh wilayah Republik Indonesia. Banyak dari daerah itu baru pertama kali dikunjungi Presiden sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945.

Presiden bisa menggunakan pesawat terbang jika ada landasan yang cukup di tempat tujuan. Terkadang harus menggunakan pesawat kecil berbaling-baling karena landasannya sangat kecil. Seperti waktu ke Nias, atau ke Tanah Bumbu Kalsel. Terkadang harus naik kapal perang karena itu satu-satunya transportasi yang mungkin, seperti waktu ke Alor NTT, atau ke Nunukan Kaltim. Terkadang harus dengan helikopter, karena cuma itu cara sampai ke tujuan, seperti kala ke Yahukimo Papua, atau ke Taman Nasional Tanjung Puting Kalteng.

Namun ada kalanya jalan darat yang dipilih oleh Presiden SBY. Walaupun waktu tempuh bisa sampai 1, 2, 3, atau 4 jam, bahkan lebih. Seperti waktu ke Jember dari Surabaya, dari Jambi ke Tanjung Jabung Timur, dari Bengkulu ke Padang, dari Lampung ke Jakarta, atau yang terakhir dari Balikpapan ke Samarinda.

Saya senang saja berkendaraan darat. Sepanjang jalan bisa melihat langsung keadaan masyarakat dan sumber kehidupannya. Ini tidak akan bisa jelas jika dilihat dari helikopter atau pesawat udara. Dan masyarakat yang menyambut dan melambai di sepanjang jalan hanya punya kesempatan jika Presiden memilih jalan darat. Sesekali Presiden SBY dan Ibu Negara membuka kaca mobil dan membalas melambai.

Namun, perjalanan darat yang panjang ada risikonya. Bagi yang kebelet buang air kecil, bisa keluar keringat dingin. Karena rangkaian kendaraan presiden tidak akan berhenti jika kendaraan presiden tidak berhenti. Yang bisa dilakukan hanyalah berdoa, semoga presiden juga kebelet.

Kadang-kadang doa itu terkabul. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Mobil presiden tiba-tiba berhenti. Presiden SBY atau Ibu Ani juga sedang kebelet. Dan semua kendaraan dalam rangkaian kendaraan harus berhenti. Biasanya petugas Paspampres menghentikan kendaraan di masjid yang ada kamar kecil dan air bersih. Bisa juga di kantor polisi, atau kantor camat, atau rumah penduduk yang ada.

Lalu berhamburanlah seluruh anggota rombongan yang juga kebelet. Termasuk para menteri serta jubir presiden, petugas protokol, atau Paspampres. Persoalannya, seringkali kamar kecil yang tersedia di tempat itu hanya satu. Dan itu sedang dipakai oleh Presiden atau Ibu Negara. Menunggu sesudahnya sudah tidak tahan. Menunggu sesudahnya harus antri dengan yang lain, dan membuat presiden harus menunggu lama. Bisa-bisa ketinggalan kendaraan.

Lalu apa yang harus diperbuat? Solusi yang paling praktis, segera ke pinggir jalan, di semak-semak, di antara pepohonan, bagus lagi jika ada jurang atau tebing, dan segera bisa buang hajat. Karena ini `arus bawah`, yang harus dileselesaikan sendiri, dan tak bisa diwakilkan.

Ketika sedang asyik-asyiknya melegakan diri secara berjamaah di tepi jalan, ada saja anggota rombongan yang suka bercanda, dengan tenangnya berkata: ‘Permisi, ya Mbak...!’ Lalu seluruh `jamaah buang hajat` terperanjat dan situasi menjadi lucu sekali. Burung-burung pun beterbangan karenanya. Baru ketika semua paham itu adalah bercanda, maka serempak semua tertawa. Hahaha...kalau sudah begitu, tak terasa penatnya perjalanan.