Kita tercengang dengan berita internasional akhir-akhir ini. Thailand dan Kamboja sedang bersitegang urusan perbatasan wilayah. Di televisi kita lihat pasukan Thailand dan Kamboja sudah berhadap-hadapan di perbatasan. ASEAN tampak kesulitan mengatasi masalah ini, malah Kamboja pun sudah meminta Dewan Keamanan PBB untuk turun tangan.
Semua ini karena persoalan kepemilikan sebuah kuil Hindu, Preah Vihear, peninggalan sejarah yang berumur 900 tahun. Yang menarik di sini, dua bangsa penganut Buddha itu berebut kuil Hindu, sehingga harus mengerahkan tentara. Begitulah kenyataan dalam hubungan internasional. Ini bukan hanya soal kuil Hindu, ini adalah tentang sejarah, tentang kedaulatan wilayah, tentang nasionalisme, yang bagi setiap bangsa harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan.
Tentu saja selalu ada dua cerita dari situasi konflik. Dan setiap bangsa beradab harus mengutamakan solusi damai dalam penyelesaian konflik. Apalagi dalam semangat ASEAN. Sebaliknya, pihak-pihak manapun yang bisa memediasi konflik perlu menawarkan jasa baik untuk itu. Dalam hal ini Indonesia bersedia menawarkan diri menjadi penengah yang tidak berkepentingan, demi kawasan ASEAN yang damai.
Tapi bukan itu benar yang ingin saya sampaikan kali ini. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menghargai warisan sejarah bangsa sendiri yang kaya. Kita tidak perlu menunggu hingga ada negara yang mengklaimnya baru kita tergerak untuk merawat dan menghargainya.
Ketika minggu lalu Presiden SBY menghadiri Tapak Tilas ‘Trail of Civilization’ yang diadakan di pelataran Candi Borobudur, saya tak henti-hentinya tertegun melihat keanggunannya. Borobudur adalah candi Buddha, milik Bangsa Indonesia, sekaligus warisan peradaban dunia. Ada juga Candi Prambanan yang Hindu, dengan legenda Bandung Bondowoso. Kita juga punya Mesjid Agung Demak, dengan arsitektur lokal yang khas. Gereja Imanuel di Pasar Baru Jakarta, juga adalah kekayaan sejarah bangsa. Begitu pula kelenteng Cheng Ho di Semarang.
Belum lagi berbagai peninggalan sejarah lainnya, seperti kawasan Kota tua Jakarta dan pelabuhan Sunda Kelapa, Istana Merdeka dan istana kepresidenan lainnya, Monas, Istana Maimoon di Medan dan berbagai bangunan keraton di seluruh nusantara. Juga makam dan monumen pahlawan bangsa, termasuk rumah pengasingan mereka di Bengkulu, Banda, Ende, Digul, dan sebagainya. Jangan pula lupa, tapak tilas, monumen, dan markas gerilya Panglima Besar Sudirman seperti yang ada di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Yang terakhir ini keadaannya sungguh memprihatinkan dan perlu perawatan dan renovasi yang menyeluruh. Agar anak-anak kita, generasi-generasi berikut Bangsa Indonesia, bisa tahu bahwa negeri ini direbut, dimerdekakan, dengan darah dan air mata. Sehingga mereka tak akan pernah lupa, tak akan pernah menyia-nyiakan, arti kemerdekaan itu.
Yang juga tak kalah pentingnya, adalah warisan sejarah bangsa dalam bentuk budaya. Baik itu batik, ulos dan ikat, reog Ponorogo, perahu pinisi, karapan sapi, rumah betang, sasando, kecapi, angklung, gamelan, dan banyak lagi. Juga nyanyian tradisional, lagu-lagu pop Indonesia, film, berbagai karya sastra lama dan baru. Semuanya harus kita pelihara dan rawat dengan sebaik-baiknya. Yang bisa direnovasi, direnovasi, yang bisa dihidupkan, kita hidupkan. Seperti kata sebuah lagu ‘...agar tiada penyesalan, dan air mata....’
Ada lagi satu yang perlu ditambahkan, yaitu berbagai budaya kuliner nusantara yang begitu kaya. Yang ini malah langsung bisa dinikmati, dan bikin kenyang. Beberapa waktu lalu saya sempat mencicipi pecel pincuk Mbol Bari di Blitar yang luar biasa. Ini juga warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 28 Juli 2008
Preah Vihear
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



