Kalau dibuat polling tentang Jombang dan apa yang terlintas di benak masyarakat ketika ditanya, kemungkinan besar jawaban yang muncul adalah pesantren-pesantren tua yang kharismatis, seperti Tebu Ireng, Den Anyar, dan Darul Ulum. Yang teringat adalah NU, karena itu adalah pesantren-pesantren utama yang menopang berdirinya NU. Yang teringat adalah orang-orang terkenal kelahiran Jombang, seperti Gus Dur, mantan Presiden RI, atau Cak Nur, intelektual muslim guru bangsa, atau pun Cak Nun, budayawan kondang.
Kini, tambah satu hal lagi yang akan teringat ketika kita bicara tentang Jombang: ‘Ryan si Jagal Jombang.’ Ini yang menjadi berita utama media di seluruh negeri, dan korban-korban yang dijagal lalu dikubur di belakang rumahnya. Ini yang menjadi keprihatinan kita, mulai dari ibu rumah tangga, tukang ojek, guru ngaji, kaum profesional, sampai Presiden SBY. Bagaimana mungkin ada orang yang sekejam itu, membunuh orang dan menguburkannya begitu saja di belakang rumahnya. Bukan satu, bukan dua, tapi sepuluh korban, dan mungkin lebih.
Kita terbayang akan kesedihan keluarga para korban yang selama ini tak tahu mereka telah dibunuh. Bagaimana kalau mereka adalah keluarga kita, yang sudah lama tak memberi kabar? Lalu tiba-tiba yang muncul adalah berita tentang pembantaiannya.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh negara, oleh kita semua agar penjagalan semacam ini tidak berulang? Kita belum tahu apakah Ryan gila atau tidak. Kalau dia gila, maka keluarganya dan orang di sekitarnya berkewajiban untuk memeriksakannya ke dokter, agar bisa diberi perawatan. Dan kalau kegilaannya itu punya kecenderungan untuk melakukan kekerasan, maka dia harus dikontrol agar tidak bisa melakukan kekerasan baik kepada dirinya maupun orang lain.
Kalau dia tidak gila, dan kekejaman itu dilakukannya karena niat jahat, hawa nafsu ataupun amarah, maka tugas negara dan masyarakat untuk mencegahnya, menghentikannya, menangkapnya, dan menghukumnya dengan seberat-beratnya.
Dari sisi keluarga, jangan biarkan ada anggota keluarga yang ‘tiba-tiba’ hilang dan tak ada kabar beritanya. Segera laporkan kepada polisi dan pejabat yang berwenang, jika ada anggota keluarga yang hilang, atau tak ada kabar berita. Jangan anggap biasa hubungan silaturahim keluarga yang ‘tiba-tiba’ putus.Tugas aparat negara, baik itu kepolisisan, maupun pemerintah desa/kelurahan, sampai RT/RW untuk membantu menemukan orang hilang.
Dari sisi pertetanggaan, jangan bersikap tak mau tahu, acuh tak acuh, jika ada hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang aneh dan mencurigakan di lingkungan Anda. Tanggung jawab kita untuk menanyakan secara baik, sekali lagi secara baik, tentang hal-hal atau pun kegiatan-kegiatan tersebut. Itu juga merupakan bagian dari silaturahim sesama tetangga, seperti juga saling tolong-menolong dan gotong royong.
Jika diminta untuk membantu melakukan sesuatu yang aneh dan mencurigakan, seperti menggali lubang yang tak jelas gunanya, tak ada salahnya bertanya dengan baik. Jika tak ada jawaban yang memuaskan, dan kecurigaan itu cukup kuat, segera laporkan kepada Ketua RT/RW. Mereka ini berkewajiban untuk mengecek dan mempertanyakan secara baik kekuatiran tersebut. Dan jika kekuatiran itu pada hematnya cukup kuat, maka harus segera dilaporkan kepada petugas kepolisian terdekat, atau pejabat yang berwenang lainnya.
Terutama juga jika terlihat orang-orang yang mencurigakan dengan kegiatan yang mencurigakan pula. Apalagi jika ada orang-orang yang datang lalu tak pernah lagi keluar, seperti kasus di Jombang itu. Satu korban sudah terlalu banyak. Tak sepantasnya menjadi sepuluh, atau lebih. Kita harus merenungkan dalam-dalam tentang hal ini. Dan bukan sekedar ikut bersedih atau marah.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 4 Agustus 2008
Jombang, Riwayatmu Kini
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



