Coba simak lagu Leo Kristi ini: ‘...merah putih mawar melati, merah putih setiap hati...’ Sebuah penegasan tentang kebangsaan yang meresap sampai ke hati. Dalam. Terpatri. Dan tak mungkin goyah.
Sering sebuah lagu, puisi, atau lukisan dan karya seni lainnya lebih bisa menggambarkan rasa kebangsaan dengan lebih dalam. Karena kebangsaan dan seni keduanya tentang rasa, tentang semangat, tentang jiwa. Dan itu bermuara di hati.
Hari-hari ini kita melihat bendera merah putih berkibar di mana-mana, di setiap rumah, kantor, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya. Bahkan juga banyak yang sengaja memasang bendera merah putih ukuran kecil di kendaraannya, di kerah baju, di topi, atau berbagai aksesoris lainnya. Memperlihatkan semangat merayakan hari kemerdekaan.
Berbagai upacara dan acara untuk merayakan 17 Agustus akan dan telah berlangsung, mulai dari istana hingga ke kampung-kampung. Dan itu pantas kita lakukan. Karena kita mendapatkannya dengan darah dan airmata. Karena kita mensyukuri kemerdekaan ini. Karena kita menyadari kita harus memperkuat rasa kebangsaan untuk menyongsong masa depan yang gemilang.
Tapi jangan salah sangka. Mengibarkan bendera merah putih, menggelar acara sekedar bendera dan upacara itu sendiri. Karena rasa kebangsaan tidak hanya perlu diungkapkan sekali dalam setahun, tidak hanya diungkapkan dengan bendera dan upacara, tapi dengan aksi nyata setiap hari, sepanjang tahun, sepanjang masa. Karena bangsa ini dan negara ini akan hidup terus, harus hidup terus sampai seribu tahun lagi, selamanya. Selama merah putih masih ada dalam hati.
Siapa pun kita, apa pun yang kita lakukan selama kita warga negara Indonesia, tanyakan pada hati apa yang bisa kita lakukan bagi bangsa dan negara. Karena bukan hanya Presiden Kennedy yang bisa bertanya tentang itu kepada bangsanya. Kita pun bisa bertanya seperti itu kepada diri kita sendiri bangsa Indonesia.
Soal hati tak bisa hanya soal tempat kelahiran. Tapi juga harus dipupuk sejak dini dalam keluarga, dikembangkan sedari awal disekolah-sekolah, dipelihara melalui berbagai jaringan sosial kebangsaan sepanjang hayat. Begitu terus berantai dari generasi ke generasi. Mari kita pastikan pendidikan kewarganegaraan dipersiapkan dengan baik dan dilakukan dengan baik pula dengan terus disesuaikan dengan semangat zaman, mencapai hati menyentuh kalbu. Zaman boleh berubah, manifestasi kebangsaan bisa berbeda dari zaman ke zaman, tetapi hati tetap merah putih.
Coba simak kata-kata lain dalam lagu itu: ‘...merah putih berguguran, di sana di bawah langit, tanah airku tanah merdeka...’ Setiap jiwa merah putih yang gugur menjadi pupuk untuk tersemainya tanah merdeka ini. Dan jiwa merah putih baru akan tumbuh berkembang di atasnya, tak habis-habisnya.
Dan ketika tantangan menghadang ‘..seperti satu meriam kau meledak, seribu bedil adakah berarti. Kalau laras-laras sudah berbalik, apalagi yang kau tunggu saudara? Ayo nyalakan api hatimu, seribu letusan pecah suara.. sambut dengan satu kata... merdeka!’
Dari Kilometer 0,0
Senin, 11 Agustus 2008
Merah Putih Setiap Hati
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



