Bulan Ramadhan adalah bulan silaturrahim. Itulah sebabnya Presiden SBY selalu menyempatkan diri untuk selalu berbuka puasa bersama dengan berbagai kalangan masyarakat, baik di istana maupun di rumah pimpinan lembaga negara, atau di masjid kecil di perkampungan masyarakat. Sambil bersilaturrahim, menunggu waktu berbuka puasa selalu ada ceramah ramadhan untuk menjadi santapan rohani. Bulan Ramadhan juga adalah bulan nasihat-menasihati, addiinu nasehat.
Bagi Presiden SBY mendengarkan ceramah ramadhan adalah memberi kesejukan tersendiri, sekaligus mendapatkan inspirasi dari cerita-cerita menarik dalam ceramah itu. Ceramah ramadhan memang berbeda dengan khutbah jumat yang kaku. Ceramah ramadhan lebih informal, lebih luwes tergantung situasi dan audiens, sehingga bisa lebih menyentuh hati. Apalagi suasana bulan Ramadhan memang membuat hati lebih kondusif mendapat siraman rohani.
Coba dengar cerita menarik dari Kyai Haji Tengku Zukarnain yang disampaikan dalam acara berbuka puasa di rumah ketua DPR Agung Laksono yang dihadiri oleh Presiden SBY, Sabtu lalu. Syahdan, bahwa pada zaman Rasulullah SAW, mulai banyak orang-orang masuk Islam. Mereka datang dari pelosok-pelosok jazirah Arab untuk bertemu dengan Nabi dan mengucapkan syahadat. Suatu ketika, salah seorang dari mereka setelah bertemu Nabi di masjid lalu menuju salah satu sudut masjid, kemudian kencing di situ.
Melihat itu Umar bin Khattab, sahabat Nabi, segera menghunus pedang untuk menghukum orang itu yang telah mengotori masjid. Namun Rasulullah segera mencegah Umar dan justru meminta para sahabat untuk mengambil air guna membersihkan pojok masjid yang telah dikotori orang itu. Nabi maklum orang ini datang dari pelosok, dari “udik,” yang memang belum tahu tata krama yang berlaku di masjid. Mereka hanya mengikuti kebiasaan lama mereka, suku Baduy, untuk buang hajat di manapun mereka bisa.
Nabi Muhammad SAW justru menjelaskan tentang tata krama di masjid dengan lemah lembut kepada orang itu sehingga ia mengerti dan tidak akan melakukannya lagi. Setelah peristiwa itu Sang Baduy justru menjadi pemeluk Islam yang taat dan selalu berada di garis depan untuk membela Islam. Kepada anak cucunya ia berwasiat agar mereka bertakwa kepada Allah dan menjadi Muslim yang baik.
Bayangkan, kata Pak Kyai, jika pada waktu itu Sang Baduy dipukuli ramai-ramai sebagai hukuman karena telah mengotori masjid. Mungkin saja giginya sampai patah tiga biji. Bisa jadi ia akan menjadi sakit hati dan dendam dan tidak akan berjuang di jalan Islam bersama Nabi. Bahkan, tambah Pak Kyai, kemungkinan besar ia akan berwasiat kepada anak cucunya, kepada siapapun yang ditemuinya, kepada seluruh sukunya, untuk jangan sampai masuk Islam, dan justru harus melawan Islam. Dan setiap kali ia berpesan kepada anak cucunya atau kepada siapapun, ia akan memperlihatkan tiga giginya yang patah itu sebagai bukti “keganasan” orang Islam.
Semua hadirin, termasuk Presiden SBY dan Ibu Ani, terpingkal-pingkal mendengar ceramah Pak Kyai. Cerita itu memang lucu. Tetapi setelah ketawa mereda terasa ada pesan yang bijak dari cerita itu. Sesampai di istana masih ada rapat staf dengan presiden malam itu. Sebelum rapat dimulai, Presiden SBY mengulang kembali cerita Pak Kyai sambil mengambil hikmahnya, bahwa syiar agama justru harus dilakukan dengan cara yang baik, dengan persuasi, dengan kelembutan. Syiar dengan soft power seperti ini akan lebih mengena di hati, membuka jalan bagi pencerahan. Sebaliknya, syiar dengan jalan kekerasan hanya akan menimbulkan antipati, bukannya simpati.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 8 September 2008
Cerita Ramadhan
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



