Rumah itu kecil sekali. Kamarnya hanya dua, juga kecil-kecil. Ada beranda di depannya yang muat dua kursi. Ada sedikit halamannya, cukup untuk menanam bunga secara berjejer. Memang lokasinya agak lumayan, berada di sudut jalan kompleks di samping lapangan basket, jadi pandangan cukup luas dan anak-anak punya tempat bermain.
Itulah gambaran rumah Mayor Susilo Bambang Yudhoyono, lulusan terbaik Seskoad (1989) yang kemudian diangkat menjadi dosen. Hidup di rumah itu dengan dua anak merupakan salah satu kenangan manis Presiden SBY dan Ibu Ani, bahkan kedua anaknya. Karena memang kebahagiaan tidak diukur dari besarnya rumah, tetapi lebih pada besarnya hati dan cinta kasih. Rumah itu sempat dikunjungi Presiden dan Ibu Ani ketika membuka seminar Pertahanan Negara dalam Era Globalisasi di Seskoad hari Jumat lalu.
Selama 3,5 tahun SBY menjadi dosen di Seskoad. Sebelumnya, malah bertugas sebagai Komandan Batalyon Infanteri 744 di Timor-Timur. Ketika di Timtim, Ibu Ani dan kedua anaknya pun ikut mendampingi. Begitu pula ketika menjabat sebagai Danrem 073 Pamungkas di Yogyakarta. Kehidupan seorang tentara biasanya baru membaik setelah berpangkat Kolonel dan menduduki jabatan komandan. Artinya, rumah dinas biasanya lebih besar, dan anak-anak bisa punya kamar tersendiri.
Karier selanjutnya dari Presiden SBY kita semua sudah tahu, yaitu menjadi Komandan Pasukan Pengawas PBB di Bosnia, Kepala Staf Kodam Jaya, lalu Pangdam Sriwijaya. Setelah itu sebagai Assospol Kassospol, lalu menjadi Kassospol dan Kaster. Pernah pula Ketua Fraksi ABRI di MPR.
Masa dinas aktif di TNI berakhir ketika SBY diangkat menjadi Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Hanya setahun menjadi Mentamben, SBY pun diangkat menjadi Menko Polsoskam oleh Presiden Gus Dur, sebelum dipecat juga karena tidak setuju dengan Dekrit Presiden.
Ketika Presiden Megawati diangkat menjadi presiden, SBY menjadi salah satu calon wakil presiden. Tetapi di MPR, ia kalah oleh Hamzah Haz yang kemudian menjadi wakil presiden. Tetapi kekalahan itu tidak membuatnya kecil hati bahkan bersedia kembali menjabat jabatan lamanya sebagai Menkopolsoskam dalam pemerintahan Presiden Megawati. Belakangan, SBY mengundurkan diri dari jabatannya, karena disisihkan dalam pengambilan keputusan yang menjadi tanggung jawabnya.
Kalau akhirnya SBY menjadi Presiden RI, itu karena rakyat menghendakinya. Dan rakyat bisa menentukan pilihannya melalui pemilihan presiden secara langsung. Pada pemilihan wakil presiden di MPR, SBY kalah, karena memang yang menentukan bukan rakyat secara langsung tetapi elit-elit politik.
Perjalanan karier Presiden SBY memperlihatkan sebuah perjalanan yang panjang, yang dimulai dari bawah. Tamat dari Akmil dengan predikat terbaik, menjadi Komandan Pleton, Komandan Kompi, sampai menjadi Jenderal, menteri dan akhirnya dipilih rakyat sebagai presiden. Proses karier yang panjang dan dari bawah ini membentuk kepemimpinan yang matang, bukan kepemimpinan karbitan bukan pula kepemimpinan yang ujug-ujug (tiba-tiba).
Kepemimpinan memang harus melalui serangkaian ujian kepemimpinan, pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, dan gerak maju ke depan. Bisa saja ada proses percepatan dan tak selalu harus urut kacang, tetapi semuanya harus berdasarkan proses yang alamiah bukan yang dipaksakan. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah pemimpin yang kuat, yang telah terbukti mampu mengatasi segala tantangan, kecil dan besar, ketika di bawah dan ketika berkuasa, lalu menyelesaikannya dengan baik.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 22 September 2008
Dari Rumah Kecil di Seskoad
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari Jurnal Nasional



