


Senin, 6 Oktober 2008
Ada keramaian yang tidak biasa di istana setiap hari Idul Fitri. Ribuan orang berbondong-bondong datang ke istana kepresidenan untuk bersilaturrahim, bersalaman, dengan Presiden, Ibu Negara, serta keluarganya. Siapa saja boleh datang dengan berpakaian apa saja, pakai sarung atau sendal jepit tak masalah. Siapa pun yang datang untuk bersilaturrahim adalah tamu Presiden dan Ibu Negara.
Itulah tradisi open house istana kepresidenan yang dilakukan setahun sekali, suatu tradisi yang baik agar rakyat dapat bertemu dengan pemimpinnya sambil berjabat tangan. Sebagian besar memang datang sekedar untuk bersalaman dengan presidennya. Sebagian lagi menyampaikan salam dan dukungan terhadap berbagai langkah kebijakan yang telah diambil oleh Presiden. Ada juga yang meminta Presiden untuk terus menjadi presiden, “seperti Pak Harto.” Tentu saja hal ini membuat Presiden menjadi tertawa dan menjelaskan bahwa UUD 45 sudah membatasi masa jabatan presiden selama lima tahun dan sesudahnya hanya dapat dipilih untuk satu kali masa jabatan lagi.
Ada juga yang datang membawa pesan-pesan tertentu atau laporan dan keluhan. Untuk laporan dan keluhan, selesai salaman, langsung ditindaklanjuti oleh staf kepresidenan yang mendampingi selama open house berlangsung.
Hari Idul Fitri sebenarnya adalah hari yang “berat” bagi Presiden. Bayangkan, pagi-pagi shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal bersama ribuan masyarakat, setelah itu tradisi open house dimulai. Diawali dengan sungkeman keluarga, lalu dilanjutkan dengan salam-salaman dengan seluruh staf istana kepresidenan, dari tukang sapu sampai staf khusus presiden. Setelah itu giliran para menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang dilanjutkan dengan jajaran eselon satu dalam pemerintahan. Tokoh-tokoh masyararakat dari berbagai sektor, termasuk tokoh-tokoh partai politik, mendapat giliran berikutnya. Seluruh proses ini selesai hingga lewat jam satu siang.
Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, jam tiga sore open house dilanjutkan untuk warga masyarakat lainnya hingga menjelang magrib. Setelah dihitung, rata-rata jumlah warga yang bisa disalami presiden dalam satu jam sekitar seribu orang. Kali ini, ketika magrib menjelang masih ada sekitar 1600 warga yang belum sempat disalami Presiden. Tak ada jalan lain, Presiden memutuskan untuk langsung bertemu dengan para warga yang sudah menunggu di halaman untuk menawarkan beberapa opsi.
Pertama-tama Presiden menyampaikan maaf sambil menawarkan opsi bahwa silaturrahim masih dapat dilanjutkan besok pagi di Cikeas dari pukul 11.00 hingga pukul 14;00. Para warga bersuara gemuruh menandakan opsi itu kurang disambut dengan baik. Presiden SBY kemudian bertanya siapa saja yang datang dari luar kota Jakarta. Dan separuh dari warga mengacungkan tangan. Presiden SBY pun menyadari mereka datang dari jauh, waktu mereka terbatas, dan ini kesempatan langka bagi mereka untuk bertemu dengan presidennya. Akhirnya, Presiden SBY pun mengalah, walaupun kaki dan tangan sudah penat karena berdiri dan bersalaman sepanjang hari. Presiden SBY pun menawarkan bagaimana kalau dilanjutkan setelah magrib. Dan sorak-sorai warga membahana, tanda persetujuan mereka.
Open house kali ini memang mencetak rekor baru sepanjang sejarah open house di istana kepresidenan. Warga terakhir yang disalami oleh Presiden adalah pada jam delapan malam. Walaupun capai Presiden SBY dan Ibu Negara merasa bersyukur dan berbahagia, tugasnya sebagai pemimpin telah dilaksanakan dengan baik. Sayang sekali, Haji A Piauw, tukang pijat langganan Presiden SBY sedang mudik lebaran. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
