Krisis keuangan global ini bisa diibaratkan seperti tsunami, yang episentrumnya berpusat di Amerika Serikat, lalu gelombangnya menyebar ke segala penjuru. Yang paling parah terkena tentu saja Amerika Serikat serta negara-negara yang lebih dekat dengannya. Tetapi kita, walaupun nun jauh di belahan bumi lain, terkena juga riak-riaknya.
Inilah salah satu dampak globalisasi. Dunia saling kait mengait. Satu terkena batuk, yang lain bisa ketularan. Apalagi kalau yang batuk sang raksasa.
Tapi kita tak perlu panik. Kita tak perlu marah-marah dan memaki-maki Amerika Serikat, Wallstreet, kapitalisme, atau globalisasi. Tak perlu pula kita lalu menarik diri dan mengucilkan diri pada ekonomi dunia atau pergaulan bangsa-bangsa. Yang kita perlukan adalah memperkuat ekonomi nasional agar kokoh menghadapi badai global. Yang harus kita lakukan adalah mengembangkan pasar dalam negeri, mendorong penggunaan produk dalam negeri, dan memberikan kemudahan untuk mengembangkan dunia usaha nasional.
Dalam situasi seperti ini kita harus merapatkan barisan. Semua komponen bangsa, otoritas fiskal, otoritas moneter, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, pelaku usaha nasional di pusat dan daerah, dan seluruh masyarakat Indonesia, bersama-sama menghadapi badai ini. Badai ini pasti berlalu. Kita akan selamat dan menjadi lebih kuat karenanya.
Karena itu tak ada kata panik bagi Presiden SBY dan pemerintah. Dalam suasana lebaran Presiden SBY segera memimpin langkah-langkah cepat dan tepat untuk mengantisipasi dampak krisis keuangan global ini. Kebanyakan orang masih mudik dan masih dalam suasana syawalan bersama keluarga, tapi kantor presiden justru sibuk bekerja siang dan malam merapatkan barisan bangsa. Presiden SBY dengan cepat mengeluarkan tiga Perpu, termasuk menaikkan penjaminan nasabah perbankan hingga Rp 2 miliar, dan berbagai aturan lain untuk membentengi negeri kita dari krisis keuangan.
Di tengah kesibukan itu Presiden SBY bersama Ibu Negara menyempatkan diri menonton film Laskar Pelangi bersama seratus anak jalanan. Ada seorang kawan yang sempat menyarankan agar Presiden membatalkan rencananya untuk menonton film itu. Alasannya, nanti rakyat menilai negatif bahwa ketika situasi sedang krisis Presiden kok nonton film. Jawaban saya kepada kawan itu adalah jangan panik, jangan berlebihan. Pemerintah terus mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi dan mengatasi krisis global ini. Justru kalau Presiden membatalkan rencananya menonton film Laskar Pelangi ini rakyat akan melihat bahwa presiden dan pemerintah sedang panik. Padahal Presiden SBY dan pemerintah sama sekali tidak panik.
Kehidupan harus berjalan terus sebagaimana biasanya. Termasuk menonton film Laskar Pelangi yang sudah direncanakan sebelumnya. Lagi pula, kalau ingin membantu untuk mengatasi krisis global ini, tontonlah film Indonesia. Film Indonesia adalah bagian dari ekonomi kreatif yang sedang berkembang di Indonesia. Film Indonesia bersama-sama dengan berbagai ekonomi kreatif lainnya seperti musik, pertunjukan, fashion, kerajinan, industri software komputer, dan sebagainya, sekarang menyumbang tujuh persen dari ekonomi nasional, dan menciptakan lima juta tenaga kerja dama empat tahun terakhir ini. “Jadikan film Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri,” harus menjadi semboyan kita semua.
Setelah menonton film yang luar biasa itu, yang memberi inspirasi kekuatan tekad anak-anak Indonesia untuk belajar dan bersekolah, Presiden SBY melanjutkan rapat di kantor presiden sampai tengah malam. Panik? Nggak ah.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 20 Oktober 2008
Panik? Nggak Ah
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



