Anda sakit asma? Tokek obatnya. Anda gatal-gatal di kulit? Oleskan dengan ekstrak kulit ular. Ingin peredaran darah lancar? Makan jamur kayu. Masih banyak lagi yang khasiatnya dijelaskan kepada Presiden SBY di Museum Obat Cina di Beijing University of Chinese Medicine (BUCM) yang dikunjungi oleh Presiden SBYdi sela-sela KTT Asia-Eropa di Beijing minggu lalu.

Ada lebih dari 12 ribu jenis tanaman dan binatang yang punya khasiat obat yang telah diidentifikasikan oleh BUCM yang merupakan bahan dasar obat-obatan Cina. Ini merupakan warisan kekayaan ribuan tahun peradaban Cina, yang kemudian dikembangkan secara sistematik bahkan ilmiah. Dengan demikian, bukan hanya khasiat setiap item yang diketahui, tapi juga campuran dan dosisnya yang efektif.

Yang lebih hebat lagi, BUCM juga mendidik ‘Dokter Cina’ dengan ilmu kedokteran tradisional Cina termasuk peramuan obatnya. Bukan hanya dokter (S1), tapi dokter ahli (S2) dan Doktor (S3). Dan mereka diakui sebagai dokter dan berpraktek sebagai dokter. BUCM juga mengelola tiga rumah sakit khusus untuk pengobatan tradisional Cina.

Yang menarik, kedatangan Presiden SBY di BUCM disambut oleh puluhan mahasiswa Indonesia yang sekolah di BUCM, termasuk beberapa mahasiswa S2 dan S3. Sebagian besar memang WNI keturunan, tetapi ada juga yang bukan. Bahkan ada seorang mahasiwi asal Surabaya yang berjilbab. Jangan salah sangka, mereka tidak merasa sekolah di BUCM untuk menjadi tabib, atau dukun obat tradisional. Mereka menganggap diri sedang sekolah kedokteran, untuk menjadi dokter, dengan keahlian kedokteran tradisional Cina. Apakah ijazah mereka diakui oleh Depdiknas? Tampaknya belum sebagai dokter, tapi ini sesuatu yang harus dikaji secara mendalam.

Bagi kita, pengobatan tradisional juga merupakan kekayaan budaya nusantara. Industri jamu kita merupakan industri yang besar yang mempekerjakan jutaan tenaga kerja. Jangan anggap jamu sebagai obat kampungan. Lihat saja ribuan tukang jamu yang mudik dari Jakarta setiap mendekati lebaran. Jamu dan berbagai produk herbal kita bahkan telah diekspor ke berbagai negara dan menghasilkan devisa jutaan dollar. Apalagi dengan hutan tropis kita yang sangat kaya dengan berbagai flora dan fauna, mestinya kita pun bisa membangun industri obat tradisional yang lebih besar lagi.

Tantangannya adalah bagaimana mengidentifikasikannya, meneliti khasiatnya, mengembangkan campuran dan dosis yang efektif, dan memasarkannya sebagai produk kesehatan yang manjur. Ini tentu butuh riset yang kuat, dari ahli-ahli yang serius dan terdidik dalam bidang ini, serta pendanaan yang cukup dari negara, universitas, maupun dunia usaha.

Dalam sambutannya, Presiden SBY mengharapkan mahasiswa Indonesia menuntut ilmu sungguh-sungguh di BUCM, setelah itu kembali ke tanah air untuk mengembangkan industri kesehatan tradisional kita. Ilmu kesehatan modern dan ilmu kesehatan tradisional tidak harus dipertentangkan, tetapi bisa saling melengkapi. Banyak obat-obat modern bahan intinya justru bersumber dari obat-obat tradisonal.

Minum beras kencur atau temulawak sambil makan pisang goreng di sore hari niscaya akan membuat anda lebih segar. Tapi kalau jamu yang pahit-pahit...hm...itu untuk istri saya. Saya pilih yang kapsul saja. Xie xie.