“Pak Andi, saya Widodo yang dulu ketemu di Kuba. Saya sekarang di Indonesia sampai Desember. Buku Dari Kilometer 0,0 sudah saya terima. Terima kasih.” Begitu sms yang saya terima minggu lalu dari nomor yang tak saya kenal. Saya sempat bertanya-tanya apa benar ini Pak Widodo yang kisah cintanya dengan Widari sungguh mengharukan (Cinta yang Terhalang di Kuba, 25 September 2006).

Tapi nomornya adalah nomor Indonesia, bukan nomor luar negeri. Saya menelepon balik, dan suara Pak Widodo dari seberang segera menyahut. Suaranya masih lantang bersemangat, bahkan terkesan gembira. Gembira bisa kembali ke tanah air, bertemu sanak saudara yang sudah begitu lama terpisahkan. “Saya baru saja pulang dari Blora” katanya. Maklum, keluarganya kebanyakan tinggal di kampung halaman, di Blora. Di Jakarta Widodo tinggal di tempat adiknya.

Sejak tahun lalu, 17 Agustus 2007, Widodo dan tiga rekannya mantan mahasiswa Indonesia tugas belajar Orde Lama di Kuba telah menerima kembali paspor Republik Indonesia, tanda kewarganegaraan RI. Setelah sekian lama terkatung-katung tanpa kewarganegaraan yang jelas (stateless), Widodo dan banyak lagi mantan mahasiswa Indonesia seperti itu di luar negeri sudah mendapatkan paspor RI. Tentu saja jika mereka menginginkannya. Tinggal datang ke Kedutaan Besar RI atau kantor perwakilan RI manapun, paspor RI segera bisa diberikan.

Inilah semangat baru rekonsiliasi kebangsaan yang dicanangkan oleh Presiden SBY, sejak mendengar kisah Widodo dan banyak lagi rekannya yang lain, yang masih bertebaran di luar negeri. Mereka ini adalah korban pergantian rezim pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru, hanya karena mendapatkan beasiswa tugas belajar di negara yang salah. Kisah cinta Widodo dan Widari yang terputus hanyalah salah satu korbannya. Mungkin banyak lagi cerita-cerita lain yang tak kalah mengharukan dari jalan hidup para mantan mahasiswa ini, namun tak sempat ditulis. Sebagian bahkan sudah terbawa ke kubur, tanpa mendapatkan paspor RI kembali.

Widodo tak minta dikasihani. Tak ada kesan getir dalam nada suaranya. Dia hanya mengabarkan bahwa dia sudah senang kembali ke tanah air, kembali ke Blora dan bertemu sanak saudara. Widodo adalah warga negara Indonesia yang sah, dan paspor RI yang sekarang dipegangnya menegaskannya. Karena Indonesia memang tak pernah lepas dari hatinya.

Saya mengundangnya untuk mampir ke Istana Kepresidenan minggu ini, sambil makan siang di warung padang yang paling enak di sekitar istana. Yang ini pasti tak ada di Kuba. Rasanya saya harus belajar banyak dari Widodo tentang hidup dan bagaimana bisa tegar menghadapi tantangan yang muncul dalam kehidupan.

Sebelum pembicaraan telepon berakhir, tak bisa tertahan untuk menanyakan hal ini: “Sudah bertemu dengan Ibu Widari?” Belum, jawabnya. “Tapi saya sudah diundang untuk bersilaturrahim dengan keluarganya, sebelum saya pulang ke Kuba.”

Saya ikut senang mendengar kalimat terakhir itu. Widari memang masih tinggal di Jakarta dengan suami, anak-anak dan cucu-cucu tercinta. Hidup memang punya jalannya sendiri. Kita bisa merencanakan, tapi takdir bisa berkata lain. Cinta tak pernah berarti memiliki, dan persahabatan bisa kekal abadi.