Krisis keuangan dunia ini betul-betul global. Walau sebab musababnya dari Amerika Serikat, tak ada negara yang tak terkena imbasnya. Mungkin karena AS memang satu-satunya super power, dia batuk kita batuk, dia meriang seluruh dunia meriang.

Tapi ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kita harus bisa mengatasinya bersama-sama, sedunia. Amerika Serikat tak mungkin mengatasinya sendiri, karena dia memang sedang sakit. Namun, krisis ini juga tak mungkin diatasi tanpa peran AS. Karena itulah, pemimpin negara-negara G-20 harus segera berembuk, di Washington DC, ibukota AS.

Tapi bukankah Presiden Bush, sudah menjadi lame duck president (presiden bebek lumpuh) karena sudah ada presiden baru yang terpilih, Barack Obama? Persoalannya, presiden terpilih Obama baru dilantik pada tanggal 20 Januari 2009, masih lebih dari dua bulan lagi. Sementara itu, dunia tak mungkin menunggu dua bulan lagi, karena langkah-langkah bersama sedunia harus segera diambil.

Kita patut bangga, negara kita Indonesia adalah juga anggota G-20, yaitu forum negara-negara maju G-8, yaitu Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, dan Amerika Serikat, ditambah 12 negara-negara yang sedang bangkit ekonominya (emerging economies), yaitu Argentina, Australia, Brasil, China, India, Meksiko, Russia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Korea Selatan dan Turki dan Indonesia. Inilah juga yang bisa disebut 20 negara dengan ekonomi yang terkuat di dunia. Keseluruhannya, 20 negara ini mewakili 80 persen ekonomi dunia. Indonesia adalah satu-satunya negara Asean dalam G-20.

Diharapkan, sebuah aksi bersama ke 20 negara ini, akan mempercepat pemulihan ekonomi dunia. Namun demikian, jangan pula berharap setelah KTT ini maka ekonomi dunia langsung puli dari krisis dalam semalam. Bandung Bondowoso yang membangun Candi Prambanan dalam semalam, hanya ada dalam mitologi.

Yang menarik, presiden terpilih Obama mendukung kegiatan KTT G-20 di Washington DC ini, walaupun penyelenggara KTT ini adalah Presiden Bush yang masa jabatannya tinggal dua bulan. Bahkan, presiden terpilih Obama mendapatkan penjelasan langsung dari Presiden Bush dalam kunjungan pertamanya ke Gedung Putih sebelum KTT berlangsung.

Yang lebih menarik lagi, presiden terpilih Obama menolak untuk bertemu dengan para pemimpin dunia yang berada di ibukota AS. Ia malah berada di rumahnya di Chicago, mempersiapkan kabinet dan perangkat kepresidenannya agar tugasnya sebagai Presiden AS langsung dapat berjalan dengan baik sejak hari pertama masa jabatannya. Kata Obama: 'Hanya ada satu presiden di AS, pada satu waktu.'

Ini adalah prinsip etika politik dan etika pemerintahan yang luar biasa, yang patut kita contoh. Ini adalah etika penghormatan terhadap masa jabatan, terhadap kepemimpinan. Demokrasi menegaskan pergiliran kepemimpinan secara beradab, sesuai masa jabatan. Yang terpilih menunggu sampai tiba waktunya, yang berakhir berkonsultasi dan bekerja sama dengan yang terpilih, agar persoalan bisa diatasi, agar transisi pemerintahan bisa berjalan dengan mulus.

Sebelumnya, kita juga ditunjukkan etika politik yang tak kalah luarbiasanya oleh McCain, sebagai calon presiden yang kalah. Hanya setengah jam setelah televisi memperlihatkan bahwa dia telah kalah dalam pemilihan presiden AS, McCain tampil di televisi. Di depan pendukungnya ia memberi selamat kepada Obama, dan meminta para pendukungnya mendukung Presiden Obama, karena Obama adalah Presiden Amerika Serikat, panglima tertinggi bangsa AS. Di Indonesia, ada mantan calon presiden yang kalah dalam pemilu 2004, sampai sekarang belum memberi selamat, bahkan belum menyapa Presiden SBY. Padahal, sekarang sudah hampir pemilu lagi.

Negara AS memang sedang krisis secara ekonomi, tetapi secara kepemimpinan, secara etika politik dan pemerintahan, kita masih bisa belajar banyak darinya. Kita angkat topi.