Tahukah anda apa kesamaan antara jagung, kentang, ubi jalar, dan cabe? Mungkin anda tidak percaya, tapi semuanya berasal dari Amerika Selatan atau sering juga disebut Amerika Latin. Tanaman-tanaman itu menyebar ke seluruh dunia bersamaan dengan mulainya globalisasi akibat kolonialisme. Jadi, kalau anda suka makan jagung dioles dengan cabai, atau sarapan dengan ubi Cilembu, atau juga makan sop ayam dengan potongan kentang, anda harus berterimakasih kepada orang-orang Indian Inca, Maya dan Astec yang mendomestikasi cikal bakal tanaman itu ribuan tahun lalu.

Sebagian tanaman itu sudah begitu familiar seperti jagung, ubi jalar, dan cabai sehingga seakan-akan sudah menjadi bagian dari kita, warisan nenek moyang. Malah dianggap sebagai makanan kampung, yang dimakan kalau sedang rindu kampung. Lucunya, kentang yang datangnya juga bersamaan, masih sering dianggap sebagai makanan Londo. Mungkin karena kentang sering diasosiasikan dengan hamburger dan fried chicken yang dimakan dengan kentang goreng (french fries). Padahal sup ayam bukanlah sup ayam tanpa dimasak dengan potongan kentang. Begitu juga kari kambing dan kari ayam tidak afdol tanpa ada kentangnya.

Yang tak banyak diketahui orang adalah, diam-diam kita sudah swasembada kentang, selain beras dan jagung. Tanpa gembar gembor, kita adalah produsen dan pengekspor kentang terbesar di Asia Tenggara. Produksi kentang kita naik sebesar 5 persen per tahun akhir-akhir ini, terutama karena kenaikan produksi per hektarnya. Walau demikian, kitapun masih mengimpor kentang, terutama kentang untuk french fries, yang memang membutuhkan jenis kentang yang berbeda. Biarpun secara total ekspor kentang kita lebih besar daripada impor, ini adalah tantangan tersendiri bagi produksi kentang kita.

Sambil menghadiri KTT APEC di Peru, Presiden SBY menugasi Menteri Pertanian untuk mempelajari pengembangan kentang langsung dari sumbernya. Di pegunungan Andes, Peru, inilah asal muasal kentang sebagai bahan pangan. Di Peru ini pulalah berdiri pusat penelitian kentang internasional yang menyimpan ribuan varietas kentang yang ada di dunia, terutama varietas lokalnya. Persilangan berbagai varietas inilah yang dikembangkan ke seluruh dunia sebagai salah satu bahan pangan terpenting.

Memang untuk daerah tropis seperti Indonesia, kentang hanya bisa tumbuh di daerah ketinggian. Tetapi ini bukan hambatan karena cukup banyak daerah kita yang cocok ditanami kentang. Bahkan kita pun telah menemukan varietas-varietas sendiri yang cocok untuk ditanam di nusantara.

Tantangan terberat adalah soal gandum. Untuk bahan pangan yang satu ini kita benar-benar mengimpor 100 persen, karena gandum tidak cocok untuk negeri tropis. Padahal konsumsi bakmi dan roti-rotian semakin lama semakin meningkat, bersamaan dengan bertambahnya daya beli masyarakat. Ini juga karena kelas menengah kita semakin bertambah, dan selera makan semakin mengglobal.

Kita tak perlu memaksakan diri untuk menanam gandum. Tetapi kita harus mengembangkan pemanfaatan tepung ubi jalar, tepung sagu, dan lainnya sebagai campuran tepung terigu untuk membuat bakmi dan roti. Dengan demikian, konsumsi gandum yang menguras devisa bisa dikurangi. Ini sudah terbukti bisa dilakukan, dan beberapa kali telah dipamerkan di depan Presiden. Jubir ini pun, yang merangkap sebagai juru coba, sudah mencicipinya. Rasanya lezat, tak bisa dibedakan dengan bakmi dan roti dari tepung terigu yang terbuat dari gandum.

Kita harus berpikiran terbuka terhadap berbagai bahan makanan. Jumlah penduduk bertambah terus, lahan pertanian semakin terbatas. Tak ada jalan lain, mari kita tingkatkan terus produksi pangan kita untuk segala jenis bahan pangan. Mari mulai berpetualang dengan berbagai ragam makanan yang memperkaya khazanah kuliner kita. Yang penting bergizi, berimbang, dan mak nyuus...