Setiap kali ada krisis ekonomi, biasanya kita diminta untuk ‘mengencangkan ikat pinggang’ alias berhemat dan tidak mengeluarkan pengeluaran yang tidak perlu. Kali ini berbeda. Presiden SBY dalam beberapa kali kesempatan meminta masyarakat Indonesia yang mampu, untuk tetap berbelanja sebagaimana biasanya. Business as usual dalam arti yang positif justeru diharapkan. Artinya, sekali lagi, bagi mereka yang mampu, tetaplah berbelanja barang dan jasa produk dalam negeri..

Kenapa begitu? Soalnya krisis kali ini persoalannya bukan pada ekonomi dalam negeri, melainkan karena resesi ekonomi Amerika Serikat yang kemudian menyeret juga ekonomi negara-negara Eropa dan lainnya. Hasilnya, daya beli negara-negara itu jatuh. Runyamnya, itu berarti ekspor produk-produk kita langsung atau tidak langsung akan terkena dampaknya. Kalau ekspor kita menurun, maka pendapatan petani dan pengusaha kita akan merosot. Pabrik-pabrik mungkin harus mengurangi tenaga kerja karena produksinya menurun. Pendapatan negara pun akan menurun pula. Ujung-ujungnya, seluruh rakyat terkena imbasnya.

Bayangkan kalau kita, warga masyarakat, ikut-ikutan tidak berbelanja, lalu siapa yang akan membeli barang dan jasa produk rakyat kita? Kalau kita semua berhenti berbelanja, maka ekonomi negeri kita pasti akan berhenti.

Justru dalam situasi krisis semacam ini, kita harus memperkuat pasar dalam negeri, agar kita tidak tergantung pada pasar luar negeri. Berdikari tidak hanya dalam produksi barang dan jasa, tetapi juga dalam konsumsi barang dan jasa. Karena itu, kalau ingin pasar dalam negeri kuat, tetaplah berbelanja produksi dalam negeri. Mau berlibur, silakan berlibur bersama keluarga. Sambil berlibur, makan di warung atau restoran, itu produksi petani dan nelayan kita. Jangan lupa beli cendera mata, itu produk kerajinan yang mempekerjakan banyak orang. Bawa keluarga menonton film Indonesia, itu ekonomi kreatif yang sedang berkembang.

Sebentar lagi tahun baru, butuh baju baru? Jangan ragu-ragu, produk Indonesia tak kalah kualitasnya. Sore-sore minum teh atau kopi sambil makan pisang dan ubi goreng, itu juga produk Indonesia, termasuk minyak gorengnya. Mungkin rumah perlu direnovasi, tidak usah menunda. Semen, batu bata, kayu, dan tukangnya, semuanya produk dan jasa Indonesia. Jangan lupa baca koran dan majalah, karena wartawan dan pers juga perlu hidup, dan kita perlukan. Dan masih banyak lagi.

Tentu ini bukan berarti Presiden menganjurkan untuk hidup boros. Tidak. Yang dimaksudkan adalah agar kehidupan masyarakat yang mampu tetap berjalan sebagaimana biasanya, agar ekonomi dalam negeri terus pula berputar sebagaimana mestinya. Ingat, soal ekonomi juga soal psikologis. Kalau masyarakat yang mampu kemudian tercekam dengan krisis ekonomi global ini, kemudian berhenti berbelanja, maka itulah yang akan menyeret kita ikut-ikutan krisis.

Pemerintah terus bekerja untuk mengatasi krisi global ini. Termasuk dengan membantu rakyat kecil dengan program BLT, BOS, Raskin, Jamkesmas, PNPM Mandiri, dan KUR, yang meringankan beban rakyat, memberdayakannya, dan memperkuat daya beli masyarakat. Yang tak kalah pentingnya dalam peningkatan daya beli rakyat adalah penurunan harga BBM.

Bulan Desember ini jadwal Presiden SBY ke luar kota lumayan banyak. Mulai dari Bali, lalu Padang, Dharmasraya, Palembang, kemudian Pacitan, Jogja, Magelang, dan terakhir akan menghadiri perayaan natal di Manado. Kalau sudah pegal-pegal mengikuti jadwal Presiden yang padat, obatnya yang manjur adalah Minyak Gosok Cap Tawon, asli produk dalam negeri, buatan Makassar, Indonesia. Mantap