Dari waktu ke waktu Presiden SBY bersilaturrahim dengan para wartawan yang bertugas di Istana Kepresidenan. Presiden SBY menghargai tugas jurnalistik para wartawan yang datang dari berbagai media untuk mendapatkan informasi terkini tentang kebijakan negara maupun isu-isu politik di seputar presiden. Di lain pihak, para wartawan ini berfungsi pula sebagai jembatan untuk menyampaikan kebijakan maupun pesan-pesan langsung dari lembaga kepresidenan atau bahkan dari presiden sendiri. Karena itu, kehadiran para wartawan ini di istana dan profesionalisme mereka sangat penting dalam negara demokrasi.

Walau setiap hari para wartawan mencari berita penting untuk disampaikan kepada pembaca, pendengar maupun penontonnya, namun tidak setiap hari Presiden SBY maupun juru bicaranya bisa memberikan keterangan tentang hal-hal yang penting. Memang tidak semua informasi kepresidenan terbuka kepada publik, paling tidak pada saat itu. Tidak setiap saat pula Presiden SBY maupun jubirnya harusnya merespons setiap isu-isu politik yang muncul di media massa. Pekerjaan utama seorang presiden adalah menjalankan pemerintahan, membuat kebijakan, dan bukannya menjadi komentator politik di media massa.

Ada waktu-waktu tertentu di mana ada beberapa isu kebijakan atau isu politik yang sangat menarik perhatian pers, dan menjadi wacana publik yang bergulir dengan cepat. Biasanya para wartawan istana sudah punya setumpuk pertanyaan yang saling kait-mengait dengan isu tersebut. Karena sangat pentingnya bagi pers sehingga keterangan jurbir dianggap tidak cukup, maunya ada penjelasan langsung dari presiden.

Karena itu, acara silaturrahim antara Presiden dengan para wartawan istana menjadi penting dan perlu, serta menarik. Pada kesempatan itu para wartawan bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka yang sudah beberapa lama terpendam ingin ditanyakan langsung kepada Presiden. Dan Presiden pun langsung menjawabnya secara lugas dan jelas. Para pembaca, pendengar maupun penonton rakyat Indonesia dapat mengetahui langsung dari pemimpinnya tentang isu-isu tersebut melalui para wartawan istana.

Silaturrahim Presiden SBY dengan para wartawan istana sempat dilakukan pada hari Minggu kemarin di Cikeas. Pada kesempatan itu Presiden SBY menjelaskan tentang isu-isu politik seputar koalisi, calon wakil presiden dan kriterianya, serta hubungan kerja presiden dan wakil presiden. Maklumlah, akhir-akhir ini, pasca pemilu legislatif, isu-isu tersebut adalah isu utama di media massa. Apalagi, pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden sudah akan dibuka oleh KPU mulai tanggal 10 Mei mendatang.

Presiden SBY pun menjelaskan tuntas mengenai isu-isu tersebut dalam kesempatan itu. Sejak kemarin berita tentang pernyataan Presiden itu sudah dapat Anda ikuti melalui media elektronika baik internet, radio maupun televisi. Hari ini Anda dapat mengikutinya di semua media cetak berita. Anda pun dapat menyimak keseluruhan pernyataan Presiden SBY pada silaturrahim kemarin di website kepresiden www.presidensby.info.

Ada banyak issu-issu menarik yang ditanyakan oleh wartawan kepada Presiden SBY, tapi yang paling menarik bagi saya maupun juga bagi Presiden SBY adalah pertanyaan dari seorang wartawan televisi: “Jika diperbolehkan untuk memilih, siapa lawan yang diinginkan pada pemilihan presiden nanti?”.

Presiden SBY tersenyum mendengarkan pertanyaan yang menarik itu, lalu menjawabnya dengan: “Biarlah sejarah yang menentukan siapa yang berkompetisi di dalam pilpres nanti”. Setelah itu, biarlah rakyat yang menentukan siapa yang terpilih sebagai pemimpin untuk masa lima tahun kedepan. Kata orang Medan, sudah betullah itu. Memang arif dan bijaksana presiden kita ini.