Itu kata yang terucap dari Presiden SBY untuk mengungkapkan perasaan hatinya setelah melakukan pembicaraan empat mata bersama Wapres Jusuf Kalla sebelum rapat koordinasi dengan para gubernur seluruh Indonesia di Jakarta. Semedot adalah ungkapan bahasa Jawa yang sudah jarang terdengar, yang kira-kira berarti perasaan sedih bercampur haru, sehingga seakan-akan hatinya “tersedot”.
Perasaan hati yang semedot itu diungkapkan oleh Presiden SBY minggu lalu di depan para gubernur seluruh Indonesia yang menghadiri rapat koordinasi dalam rangka persiapan Pilpres 2009, khususnya untuk mengambil langkah-langkah membantu pemutakhiran DPT oleh KPU. Walaupun materi pembicaraan dari hati ke hati antara Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla tidak berhubungan langsung dengan agenda rapat koordinasi, tetapi Presiden SBY mengungkapkan perasaan hatinya itu di depan para gubernur sekaligus agar para gubernur yang menjalankan pemerintahan dan menjadi perpanjangan tangan presiden di daerah bisa mengerti mengenai situasi hubungan kerja di antara ke dua pemimpin, presiden dan wapres, sehingga tidak perlu mengganggu kinerja pemerintahan di daerah-daerah.
Seperti kita ketahui, menghadapi Pilpres 2009 ini Partai Golkar telah mencalonkan Jusuf Kalla sebagai calon Presiden RI periode 2009-2014. Pada saat yang sama, Partai Demokrat juga telah bertekad untuk mencalonkan SBY untuk menjadi calon Presiden RI periode 2009-2014. Artinya, duet SBY-JK sebagai presiden dan wakil presiden RI akan berakhir pada 20 Oktober tahun ini.
Memang Presiden SBY menyampaikan perasaannya yang semedot karena harus berpisah dengan Wapres JK setelah 20 Oktober nanti, karena telah bekerja sama menjalankan pemerintahan selama hampir lima tahun ini. Ini adalah sebuah prestasi pemerintahan yang terlama sejak masa Orde Baru. Presiden SBY dan Wapres JK uga menyampaikan bahwa keduanya tetap berkomitmen untuk menjalankan pemerintahan dengan baik sampai selesainya masa jabatan mereka dalam masa pemerintahan sekarang ini, sehingga para gubernur dan rakyat Indonesia diminta untuk tidak perlu khawatir karena pemerintahan akan terus berjalan sebagaimana biasanya sampai akhir mandat pemerintahan 20 Oktober 2009.
Dalam demokrasi, ada masa untuk bekerjasama ada pula masa untuk berkompetisi. Kedua pemimpin bersepakat bahwa kompetisi dalam pilpres nanti tetap akan dilakukan dengan saling menghormati, saling menghargai dan tidak akan mengganggu kerja pemerintahan yang sedang berjalan. Lagipula, setelah kompetisi pilpres nantinya kerjasama dalam pemerintahan baru tetap akan dimungkinkan.
Para gubernur yang hadir bertepuk tangan walau juga ikut terharu melihat kebersamaan dan etika politik yang ditunjukkan oleh ke dua pemimpin. Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi dalam konperensi pers sesudahnya mengatakan bahwa apa yang ditunjukkan oleh SBY dan JK adalah sebuah pembelajaran bagi anak-anak bangsa. Gubernur Riau Rusli Zainal mengatakan bahwa ini adalah contoh yang patut diikuti oleh para pemimpin di daerah yang seringkali juga ada persoalan kerjasama dan kompetisi antara gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota. Semua itu harus dikelola dengan baik dengan etika politik sebagaimana yang ditunjukkan oleh Presiden SBY dan Wapres JK.
Alangkah cantiknya demokrasi negeri ini ketika kerjasama dan kompetisi dilakukan dengan saling menghargai, saling menghormati dengan etika politik yang tinggi. Dunia pun bisa mengambil pelajaran dari negeri ini. Saya pun ikut jadi semedot, tak bisa berkata-kata lagi.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 27 April 2009
Semedot
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



