Alhamdulillah, akhirnya KPU mengumumkan hasil pemilu legislatif pada saat-saat terakhir Sabtu malam lalu. Memang sudah terlalu lama kita menunggu pengumuman itu. Walaupun siapa saja sudah bisa mengira-ngira hasilnya tetapi semua perhitungan perkiraan itu bukanlah hasil resmi. Lagipula, tanpa hasil perhitungan resmi KPU proses selanjutnya dari Pemilu 2009 ini belum bisa dilakukan.
Semua macet sebelum ada pengumuman resmi dari KPU tentang hasil perhitungan pemilu legislatif. Yang sudah mau mencalonkan diri sebagai calon presiden atau calon wakil presiden terpaksa harus bersabar karena modal kursi atau suara belum ada di tangan. Bagi yang modalnya lebih dari cukup memang tidak masalah, tinggal cari cawapres yang tepat. Tetapi kalau modalnya cuma pas-pasan, bisa cukup bisa tidak, semakin lama menunggu semakin mendebarkan. Belum lagi para caleg dan tim suksesnya yang sudah tidak sabar mau tahu bakal lolos ke Senayan atau tidak.
Sebagaimana semua pertandingan, pengumuman hasil pertandingan melahirkan pemenang dan mereka yang belum berhasil menang. Yang menang tentu saja bergembira dan yang kalah tentu tidak senang. Walaupun sebenarnya ukuran menang dan kalah bisa saja berbeda bagi masing-masing orang, sesuai dengan targetnya masing-masing. Dengan begitu, walaupun yang memperoleh nilai tertinggi hanya satu, tetapi pemenang bisa lebih dari satu.
Dalam pertandingan, menang dan kalah itu biasa. Kalau bersedia bertanding maka harus siap menang dan siap pula kalah. Ikuti aturan main sebelum, selama, dan sesudah bertanding adalah prinsip sportifitas. Kalau belum berhasil saat ini persiapkan diri lebih baik lagi untuk pertandingan berikutnya. Jangan berpikir mengutak-atik aturan main untuk menghindari kekalahan ketika pertandingan sudah selesai. Itu tidak ksatria.
Kekalahan bukanlah akhir segalanya, seperti juga kemenangan bukanlah puncak dari segalanya. Pak SBY juga pernah kalah, ketika kalah dalam pemilihan cawapres di MPR pada tahun 2001. Tapi sejarah mencatat, tiga tahun kemudian Pak SBY menjadi Presiden SBY karena berhasil menangkan pemilihan langsung yang pertama kali dilakukan di negeri tercinta ini. Orang yang berpikir positif dan tak kenal putus asa akan mampu mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Sebaliknya, orang yang berpikir negatif menjadikan kekalahan sebagai awal keterpurukan yang lebih dalam.
Tapi kemenangan, sekali lagi, bukanlah segalanya, karena itu harus dianggap sebagai amanah yang dipegang teguh. Sebab kemenangan juga bisa berubah menjadi kekalahan, dan itu bisa kita lihat dari pemilu ke pemilu. Menjadi pemenang juga ada etikanya, agar terus bisa menjadi pemenang. Menjadi pemenang bagi semua, pemenang yang rendah hati, pemenang yang amanah, niscaya akan membawa pada kemenangan berikutnya.
Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sakti tanpa aji-aji adalah pepatah Jawa yang perlu dicamkan oleh mereka yang menang. Pepatah ini adalah juga peringatan bagi pemenang, karena kemenangan pada dasarnya adalah juga ujian. Mereka yang lulus dari ujian akan mendapatkan kemenangan yang lebih besar lagi. Kemenangan yang datang dari diri sendiri, yang dilakukan dengan cara yang bersih, dan tanpa merendahkan yang kalah akan menghasilkan kemenangan yang lebih gemilang lagi. Inilah salah satu filsafat hidup yang saya pelajari selama ini dari Presiden SBY. Dan saya merasa sangat beruntung.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 11 Mei 2009
Menang Tanpa Ngasorake
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



