Akhirnya ada tiga `Balon` presiden dan wakil presiden yang mendaftar ke KPU. Mereka adalah SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Disebut `Balon` atau bakal calon karena memang mereka belumlah sah menjadi calon presiden dan wakil presiden. Mereka barulah mendaftar ke KPU, dan KPU kemudian akan memeriksa apakah mereka memenuhi persyaratan untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden. Tanggal 5 Juni nanti barulah KPU menetapkan siapa-siapa yang memenuhi syarat sesuai ketentuan undang-undang sebagai calon presiden dan wakil presiden dan bisa bersaing dalam Pilpres 2009 ini. Oh ya, sekaligus juga nomor urutnya masing-masing.
Ya, tidak sembarang orang bisa menjadi calon presiden dan wakil presiden. Ada syarat-syaratnya yang diatur oleh undang-undang. Mulai dari syarat dukungan partai atau gabungan partai yaitu memiliki 20% kursi di DPR atau 25% suara dalam pemilu legislatif yang lalu, sehat jasmani dan rohani, sampai pada syarat bertakwa kepada Tuhan YME. Kalau Anda melihat para balon presiden dan wakil presiden diperiksa kesehatannya, termasuk kesehatan jiwa, semua itu untuk memastikan bahwa calon pemimpin kita adalah sehat jasmani dan rohani.
Kalau soal syarat bertakwa kepada Tuhan YME ini memang sulit mengujinya, karena itu KPU mewajibkan masing-masing calon untuk membuat pernyataan bahwa mereka bertakwa kepada Tuhan YME. Ada puluhan formulir persyaratan lainnya yang harus diisi oleh para balon. Jangan dikira mudah menjadi capres dan cawapres.
Memang tidak setiap orang bisa begitu saja menjadi calon presiden dan wakil presiden. Harus ada syarat-syaratnya. Kalau tidak maka setiap orang mau menjadi calon presiden atau wakil presiden, puluhan, ratusan, atau ribuan. Bayangkan bagaimana besarnya, bentuknya atau banyaknya lembar surat suara kalau setiap orang bisa menjadi calon presiden tanpa syarat apapun. Sudah baguslah ada tiga pasang calon presiden dan wakil presiden, ada pilihan tapi tidak terlalu banyak. Mudah-mudahan mereka semua dapat melengkapi semua persyaratan yang ditentukan.
Yang lucu adalah ada demo-demo kecil, sepuluh dua puluh orang, di sana-sini yang menggunakan spanduk-spanduk tolak calon tertentu. Lucu, karena dalam demokrasi orang-orang ini mempunyai pilihan untuk memilih calon lain tanpa gembar-gembor. Kalau tidak mau pilih si A, silakan pilih si B atau si C. Tapi mereka sengaja mencari perhatian media untuk menolak calon tertentu. Mungkin karena khawatir karena calon yang didukungnya kemungkinan besar kalah lalu tergoda untuk menggunakan kampanye negatif bahkan kampanye hitam terhadap saingan utamanya.
Terlalu kentara upaya-upaya kampanye negatif bahkan kampanye hitam yang dilakukan secara sistematis dengan menggerakkan orang-orang tertentu bahkan mahasiswa untuk melakukan demo menolak calon lain. Yang menarik, walaupun jumlahnya sedikit sekali tapi liputan media dimaksimalkan. Kentara sekali permainan kampanye negatifnya. Tapi di situ juga lucunya karena dikiranya rakyat tidak tahu permainan kotor seperti itu.
Kalau Presiden SBY, jelas hanya menggunakan “jurus-jurus putih” dalam persaingan politik. Yang lurus-lurus saja, itu prinsip beliau. Dan itu pula yang diinginkan oleh rakyat. Itulah sebabnya simpati rakyat dan dukungan rakyat terus mengalir kepada Presiden SBY. Tidak perlu menggunakan poling, cukup dengan akal sehat semata, kita bisa mengetahui bahwa rakyat menginginkan persaingan politik dilakukan secara ksatria.
Ketika pertunjukkan selesai, akhirnya Pandawa yang ksatria menang melawan Kurawa yang menghalalkan segala cara. Di Makassar, orang bilang tolok-nya pasti menang.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 18 Mei 2009
Lucu dan Kentara
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



