Tahun lalu kita memperingati 100 tahun hari Kebangkitan Nasional secara meriah, bahkan kolosal. Ratusan ribu orang berkumpul di Gelora Bung Karno untuk bersama-sama membulatkan tekad menuju kebangkitan bangsa untuk satu abad berikutnya, dan abad-abad selanjutnya. Memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional, bukan peringatan yang biasa, sehingga harus dilakukan dengan cara yang menggugah semangat, membangun tekad, menuju kejayaan bangsa.
Namun peringatan semacam itu, tidak bisa dilakukan setiap tahun, karena yang dibutuhkan bukan hanya tekad tapi justru karya nyata untuk melahirkan tonggak-tonggak sejarah baru tentang kebangkitan bangsa dan negara. Itulah sebabnya, peringatan hari Kebangkitan Nasional tahun ini dilakukan bukan dengan pengerahan ratusan ribu massa tetapi justru dengan meluncurkan dimulainya siaran TV digital di Indonesia. Acara ini dilakukan hanya dari sebuah stasiun TV nasional yang dihadiri hanya oleh ratusan orang tetapi berdampak luas pada kemajuan bangsa ke depan.
Pada tahun enam puluhan, Presiden Soekarno meresmikan diluncurkannya siaran televisi pertama di Indonesia. Masih hitam putih, tentu saja. Itu menjadi kebangggan kita ketika menjadi tuan rumah Asian Games ke empat. Saat itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang berada di garis depan teknologi telekomunikasi di Asia.
Pada tahun tujuh puluhan, Presiden Suharto, meresmikan peluncuran satelit Palapa, yaitu satelit telekomunikasi yang pertama di Asia Tenggara. Dengan Satelit Palapa siaran televisi menjangkau hampir seluruh wilayah tanah air. Dan siarannya pun sudah berwarna kala itu. Siaran televisi membawa bersama penguatan bahasa Indonesia yang merupakan salah satu pengikat kita sebagai satu bangsa. Bahkan lebih dari itu, televisi menciptakan pengalaman bersama (shared experiences) melalui berbagai macam tayangan, hiburan dan berita yang ditonton oleh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote.
Orang Bekasi, orang Samosir, orang Kotabaru, orang Jeneponto, orang Manggarai, orang Sorong, maupun orang Pacitan, dapat saling mengobrol tentang kelucuan Srimulat atau kisah yang mengharukan tentang si Malin Kundang ataupun berita-berita Dunia Dalam Berita. Anak-anakpun bisa bercerita dengan sesamanya, di manapun di seluruh nusantara tentang Unyil atau si Komo.
Tahun ini, 101 tahun Kebangkitan Nasional, Presiden SBY meluncurkan dimulainya siaran televisi digital yang akan menjadi standar baru siaran televisi secara global. Digitalisasi siaran televisi Indonesia ini bahkan lebih awal daripada AS yang baru dimulai tahun depan. Siaran televisi digital ini menggantikan teknologi analog yang selama ini digunakan di Indonesia. Kalau anda kadang-kadang mendapatkan gambar televisi yang meliuk-liuk terutama kalau anda agak jauh dari antena pemancar, itu karena siaran televisi kita masih analog.
Keunggulan televisi digital bukan hanya pada kejelasan gambar yang berlipat kali, tetapi juga pada kemampuan yang mobile. Artinya, bahwa pesawat televisi tidak hanya statis di rumah tetapi juga bisa diakses melalui pesawat televisi yang bergerak, apakah di handphone ataupun di kendaraan dan sebagainya. Yang lebih revolusioner dari televisi digital ini adalah kemampuan interaktifnya, antara stasiun televisi dan penonton. Kalau dalam sistem analog, siaran televisi dipancarkan oleh stasiun televisi dan penonton tinggal menerima saja apapun yang dipancarkan. Dalam era digital terbuka kemungkinan ada interaksi antara penonton dan stasiun televisi, yang membuat penyiaran televisi akan semakin terasa sebagai sebuah event komunitas. Belum lagi, dalam era digital siaran televisi juga bisa berfungsi sebagai saluran internet. Bayangkan bagaimana kemajuan bangsa jika seluruh Indonesia bisa punya akses dalam jaringan internet secara mudah dan murah.
Masih ada lagi, dengan teknologi digital, satu saluran frekwensi bisa digunakan oleh banyak saluran digital. Ini akan menghemat dan memperluas penggunaan pita frekwensi yang merupakan sumber daya yang terbatas. Masih banyak lagi kelebihan dari era digital yang tidak dapat saya sebutkan dalam kolom yang pendek ini. Tapi dalam lima, sepuluh tahun lagi atau bahkan lebih cepat dari itu kita semua sudah bisa merasakan kegunaannya. Bangkit Indonesiaku, Maju Indonesiaku
Dari Kilometer 0,0
Senin, 25 Mei 2009
Bangkit dengan Era Digital
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



